LIPUTAN KHUSUS

Hijrah Musisi Tanpa Melepas Musik

CNN Indonesia | Senin, 08/07/2019 13:47 WIB
Hijrah Musisi Tanpa Melepas Musik Di tengah perdebatan halal dan haram, sejumlah musisi memilih tetap bermusik dan membuat komunitas untuk musisi yang hijrah tanpa melepas aktivitas bermusik. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Derry Sulaiman, mantan gitaris band trash metal Betrayer, sudah belasan tahun lalu memutuskan untuk berhijrah dan belakangan menjadi seorang ustaz. Derry merupakan musisi yang hijrah dan terinspirasi oleh kelompok Jamaah Tabligh.

Perjalanan hijrahnya pun tergolong unik. Sekitar medio 1998, pemilik nama asli Deri Guswan Pramona itu memutuskan untuk keluar dari Band Betrayer yang sudah membesarkan namanya. Alasannya, ia berencana membuat band metal baru yang lebih 'bombastis' dari Betrayer dan memilih Pulau Bali sebagai domisilinya.

Band baru terbentuk, lagu sudah disiapkan, Derry pun mencari sosok produser yang bisa menggarap album perdana band barunya tersebut. Belakangan dia bertemu Irfan Sembiring, pendiri  grup band metal Rotor yang dikenal pada 1990-an untuk menjadi produsernya. 


Alih-alih album perdana band barunya itu diterima, Derry justru ditegur dan diajak berhijrah oleh calon produsernya tersebut. Irfan, kata Derry, justru mengajaknya untuk melangkahkan kaki masuk masjid demi mendekatkan diri ke Allah SWT. 

Lepas dari itu, Derry menyatakan proses hijrahnya itu turut dipengaruhi oleh musisi-musisi rock lain yang sudah memutuskan untuk hijrah terlebih dulu, salah satunya Gito Rollis.

"Memang yang pertama-pertama hijrah itu artis yang telah menginspirasi banyak orang, termasuk almarhum Gito Rollis kemudian ada almarhum Hari Mukti," kata Derry kepada CNNIndonesia.com, di Medan, Sumatera Utara beberapa waktu lalu.
HIJRAH EMBARGO 12Ustaz Derry Sulaiman saat dutemui di acara Hijrahfest Medan 2019. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)


Pria kelahiran kelahiran Saniangbaka, Sumatera Barat, 1 Agustus 1978 itu kini kerap muncul dengan gaya penampilan berpeci, jenggot panjang, serta jubah berpadu celana panjang di atas mata kaki. 

Meski telah menemukan jalan untuk lebih religius, Derry tak sepaham dengan sejumlah mantan musisi yang berhijrah namun mengharamkan musik. Tak tebersit dalam benaknya untuk berhenti memainkan alat musik. Ia bahkan kerap menggunakan medium alat musik ketika berdakwah di tengah-tengah masyarakat.  

Derry menganggap alat musik akan haram bila digunakan untuk tujuan kemaksiatan. Ibarat benda seperti golok dan pisau, bila digunakan untuk menodong orang, maka haram hukumnya. Begitu pula musik, menurutnya, lirik yang mengajarkan maksiat, melalaikan dan mengajak pada perzinaan tentu akan diharamkan. 

"Kalau diperlukan ya saya bermusik, tetapi ketika azan berkumandang berhenti bermusik. Karena segala anak-anak muda ini dia yang sukanya dengar-dengar musik nonton konser. Kalau kita tidak masuk dakwah akan disayangkan," tambahnya.

Derry mengamini saat ini terdapat perdebatan antara dalil halal dan haram mengenai bermusik. Ia menyatakan banyak ulama yang turut mengharamkan musik dengan alasan dapat membuat masyarakat lalai untuk lebih dekat kepada Allah SWT.

"Memang ada ulama yang membolehkan, ada yang tidak mempersoalkan ini. Kalau ada [ustaz] mengharamkan [musik] dengan alasan-alasan yang membuat lalai bercampur dengan kemaksiatan, wajar dan hormati saja," kata dia.

Terlepas dari perdebatan itu, Derry tetap berkomitmen terus berdakwah melalui medium musik. Ia sendiri telah merilis beberapa lagu bertema religi sebagai wadah berdakwah. Lagu seperti 'Ya Rasulullah', 'Manusia Hina', hingga 'Di atas Sajadah' disusuhkan ke publik sebagai sarana mengingat tuhan.

Derry pun pernah menggandeng musisi yang telah berhijrah lainnya, seperti Sunu Hermaen mantan vokalis Matta dan Ray, mantan vokalis Nineball merilis single lagu religi berjudul 'Dunia Sementara, Akhirat Selamanya'.

HIJRAH EMBARGO 12Tak sedikit musisi meninggalkan aktivitas bermusik setelah hijrah menekuni ajaran Islam. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Komunitas Hijrah Musisi Ala Komuji 

Fenomena hijrah biasanya disusul dengan membuat komunitas. Komunitas hijrah bervariasi bentuk, namun memiliki napas yang sama dengan tujuan mengkaji agama Islam lebih dalam lagi.

Sama halnya dengan para musisi yang telah memutuskan untuk berhijrah. Beberapa di antara mereka bersepakat membentuk komunitas majelis taklim yang dinamakan Komunitas Musisi Mengaji atau disingkat Komuji.

Di Jalan Cilaki, tak jauh dari Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, para musisi yang tergabung dalam Komuji kerap berkumpul. Mereka sengaja berkunjung bukan hanya untuk 'manggung', melainkan untuk mendengarkan ceramah dan diskusi yang berkaitan dengan Islam.

Komunitas pengajian para musisi ini mulai terbentuk pada tahun 2011 silam. Pesertanya pun beragam, mulai dari musisi independen atau indie hingga musisi di bawah perusahaan major label besar yang sudah memutuskan untuk berhijrah. 

Musisi yang tergabung dalam Komuji misalnya vokalis grup band The Panas Dalam, Alga Indria, Opick, vokalis 4 Peniti Zaki, vokalis Java Jive Danny, eks vokalis band Mata Sunu, hingga mantan vokalis Cokelat Kikan. 

Pendiri Komuji, Eggi Fauzy, mengatakan komunitasnya terbentuk karena didasari dua faktor keresahan dari sesama musisi. Pertama, Eggi melihat banyaknya musisi yang merasa jenuh menjalani dunia hiburan dan ingin belajar Islam lebih mendalam. 

Faktor kedua, ia melihat banyaknya fenomena sesama musisi yang meninggalkan musik saat memutuskan untuk berhijrah. Eggi dan Komuji menyayangkan sikap itu. Menurut hemat Komuji, eks musisi yang menganggap musik haram sudah salah arah karena hanya mengandalkan media sosial dalam belajar Islam.

Eggi menyatakan perlunya komunitas alternatif dimana para musikus yang sudah memutuskan untuk 'taubat' tapi tidak 'hijrah' dari musik.

"Kasihan teman-teman yang hijrah-hijrah itu tapi meninggalkan musik. Perlu juga ada pengimbangan bahwa ada kelompok yang tetap pakai musiknya, dia tetap berprofesi sebagai musisi, ya kita ini," kata dia.


Berangkat dari keresahan itu, Komuji menerapkan metode pengajian secara santai untuk memperlihatkan Islam bisa hadir dalam suasana apapun. Kafe maupun taman-taman kota di Kota Bandung menjadi tempat kajian tawasuf, fiqh sembari bermusik ala Komuji setiap Jumat sore.

"Kalau langsung ngaji ke masjid banyak yang segan. Jadi biar ada adaptasi di Kafe dan Taman dulu, jadi habis ngaji bisa akustikan atau main musik" kata dia.

Selain itu, Komuji sendiri memiliki tujuan untuk menumbuhkan pemikiran yang inklusif bagi para anggota-anggotanya ketimbang pemikiran yang kaku. Ustaz yang selalu mereka undang adalah sosok yang memiliki latar belakang Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah atau Persis seperti Muhammad Ibnu Sahroji (Ustaz Gaez), Hilmi Fuad, dan Rosihan Fahmi.

[Gambas:Video CNN] (rzr/DAL)