LIPUTAN KHUSUS

Halal Haram Musik ala The Strangers Al-Ghuroba

CNN Indonesia | Senin, 08/07/2019 10:15 WIB
Ilustrasi. Keputusan musisi untuk berhijrah dan tetap menghalalkan atau mengharamkan musik diikuti oleh paham yang mereka ikuti seperti salafi atau jamaah tabligh. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Irvan (30), bukan nama sebenarnya, masih tak percaya gerakan dakwah kecil-kecilan yang digagas bersama beberapa rekannya sesama mantan musisi indie kini semakin meluas dan mempengaruhi banyak orang.


Irvan pernah menjadi bintang salah satu personel band indie di belantika musik Indonesia. Ia menolak jika nama bekas band yang sempat membesarkan namanya tersebut dipamerkan. Irvan beralasan ingin 'move on' dari kehidupannya di masa lalu yang identik dengan hura-hura duniawi.

Pada medio 2011, Irvan memutuskan untuk berhijrah dan meninggalkan dunia musik. Memasuki 2012, Irvan bersama beberapa mantan musisi indie lain, khususnya di wilayah Jabodetabek yang telah hijrah, membentuk majelis taklim The Strangers Al-Ghuroba atau disingkat The Strangers.


Perlahan sejak itu musisi band indie yang memutuskan jalan untuk hijrah dan fokus mempelajari ilmu agama di komunitasnya terus bertambah. Beberapa di antaranya seperti dua personel band The Upstairs dan vokalis band Rumah Sakit hingga kini masih aktif berkomunitas.

"Waktu dibentuk tahun 2012 jalan begitu saja. Eks musisi indie ingin hijrah berdasarkan hidayahnya masing-masing. Tidak bisa dipaksa-paksa," kata Irvan kepada CNNIndonesia.com di Masjid Blok M Square, Jakarta Selatan, Maret lalu.


The Strangers didominasi oleh anak-anak muda yang justru kurang paham ilmu agama. Komunitas ini tidak diisi oleh musisi tua yang ingin hijrah karena usia senja. Mereka juga tak ada misi khusus untuk merekrut musisi lain ikut berhijrah.

The Strangers punya agenda utama dakwah mengundang ustaz atau ulama salafi untuk kemudian bisa memberi pencerahan ajaran nilai-nilai Islam yang murni tiap pekannya. Seiring waktu, The Strangers tak hanya diramaikan oleh eks musisi saja, namun dari berbagai kalangan.

Selama menjalani proses hijrah, kata Irvan, kebanyakan eks musisi indie mengubah diri lebih Islami seperti menumbuhkan jenggot panjang, menggunakan celana cingkrang hingga bersepakat bahwa bermusik itu haram.
HIJRAH EMBARGO 3Musisi rela melepas kegiatan bermusiknya setelah berhijrah mendalami agama Islam. (REUTERS/Amr Alfiky)

Banyaknya eks musisi indie yang memutuskan 'murtad' dari dunia musik tak lepas usai mengikuti kajian rutin dengan tema larangan untuk bermusik yang dilakukan The Strangers.

"Larangan bermusik sendiri sudah termaktub dalam ajaran sunnah Nabi Muhammad. Musik, bisa membuat umat Islam menjauh dari iman," kata Irvan.

Kajian The Strangers sendiri berpegangan pada hadis riwayat Al-Bukhari yang berbunyi 'akan ada di kalangan umatku suatu kaum yang menghalalkan zina, sutera bagi laki-laki, khamr (minuman keras) dan alat musik'.

Tak hanya itu, hadis yang diriwayatkan Imam Abu Hanifah turut memandang bahwa mendengar nyanyian tergolong dalam perbuatan dosa.



[Gambas:Instagram]

"Musik haram untuk dinikmati, begitu sunnahnya. Saya tidak pernah dengar musik lagi. Tapi kalau ke luar, seperti di mal gitu kan ada musik, itu di luar kehendak kita," kata Irvan.

Beberapa kalangan eks musisi yang bergabung dengan The Strangers sempat ragu dengan hadis tersebut. Namun setelah dijalani, kata Irvan, mereka mendapati ketenangan dan keberkahan hidup tanpa bermusik. Atas hikmah hijrah itu pula eks musisi yang aktif di The Strangers sepakat tak mau mengungkap identitas dan mengenang masa lalu lagi.

"Dulu 2013 kami pernah bikin artikel siapa-siapa aja eks musisi yang sudah hijrah, eks band ini, eks ini, yang jadi jemaah kita. Kita bikin tuh publish di website. Tapi setelah belajar dari kajian-kajian, kami luruskan niat jalani Islam. Kami tidak mau disebut riya," kata dia.

[Gambas:Instagram]

Tahun ini genap delapan tahun The Strangers terbentuk. Tak hanya lewat kajian, mereka juga aktif berdakwah di media sosial.

Akun instagram The Strangers Al-Ghuroba yang sudah memiliki 114 ribu lebih pengikut itu digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan penting dari Alquran dan hadis.

Beberapa di antaranya, termasuk hadis riwayat Ath-Thabrani yang berbunyi 'Akan terjadi di akhir zaman, ditenggelamkannya manusia ke dalam bumi, dihujani dengan lemparan batu, dan diubah rupanya yaitu jika telah tampak (dihalalkannya) alat-alat musik dan para biduanita serta dihalalkannya khamr'. Di atas hadis tersebut, tertulis ajakan agar tidak menjadi bagian fitnah di akhir zaman.

Tak hanya itu, beberapa unggahan The Strangers juga mengingatkan bahwa sukses bukan diukur dari jutaan kopi album yang sudah terjual. Akun tersebut juga menyindir soal puluhan juta yang sudah dikeluarkan untuk sebuah gitar Gibson Flying V, atau amplifier Vox, bukan investasi yang bisa membawa ke surga.

Walau menyampaikan pesan yang cukup keras soal haramnya musik, namun kesan 'menyeramkan' itu tidak dijumpai di setiap kajian The Strangers yang digelar di beberapa masjid di Jakarta, seperti masjid WTC Jenderal Sudirman dan Masjid Nurul Iman Blok M Squre.

[Gambas:Instagram]

Irvan mengaku The Strangers sendiri sengaja menggunakan simbol-simbol budaya populer melalui kampanye media sosial yang terbilang sukses menarik perhatian anak muda untuk mengahadiri pengajiannya tersebut.

CNNIndonesia.com sendiri sempat mengikuti kajian yang digelar The Strangers di salah satu masjid di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan pada bulan Maret 2019 lalu.

Kajian itu memang didominasi oleh anak-anak muda. Beberapa tema seputar nikah muda, tauhid, hijrah, hingga mu'amalah kerap dibahas bersama sejumlah ustaz ternama seperti Subhan Bawazier dan Khalid Bassalamah.
(rzr/DAL)
1 dari 2