KPK Telisik Keterlibatan Pihak Lain di Kasus Distribusi Pupuk

CNN Indonesia | Jumat, 17/05/2019 06:24 WIB
KPK Telisik Keterlibatan Pihak Lain di Kasus Distribusi Pupuk Juru bicara KPK Febry Diansyah. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah menelisik pihak-pihak lain yang ditengarai turut terlibat dalam kasus dugaan suap kerja sama distribusi pupuk PT Pupuk Indonesia Logistik (PILOG) dengan PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK). Kasus itu turut menjerat anggota DPR RI Bowo Sidik Pangarso sebagai tersangka.

Untuk itu, KPK saat ini sedang menelusuri kasus ini lebih dalam. Sebab KPK menduga kuat tersangka Marketing Manager PT HTK Asty Winasti tidak mungkin bekerja sendiri terkait proyek distribusi pupuk berujung suap ini.

"Dari identifikasi yang kami temukan tidak mungkin dia berbuat sendiri. Nah itu yang sedang kami telusuri, bagaimana sebenarnya mekanisme di PT HTK tersebut," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (16/5).


KPK sendiri sudah memeriksa sejumlah saksi dari PT HTK. Hari ini komisi antirasuah itu memeriksa Komisaris PT HTK Theo Lykatompesy dan Manajer PT Keuangan PT HTK Mashud Masdjono. Dari mereka, KPK mendalami proses sewa menyewa kapal antara PT PILOG dan PT HTK.

"Apakah ada instruksi dari koorporasi tersebut dan juga perbuatan dari tersangka diketahui atau tidak oleh pengurus korporasi," katanya.

Diketahui Bowo Sidik bersama Marketing Manager PT HTK, Asty Winasti dan Indung sebelumnya ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka suap kerja sama distribusi pupuk PT PILOG dengan PT HTK.

Bowo diduga meminta komisi kepada PT HTK atas biaya angkut yang diterima sejumlah US$2 per metric ton. Ada enam kali penerimaan yang diduga telah terjadi sebelumnya di sejumlah tempat sebesar Rp221 juta dan US$85.130.

KPK mengendus Bowo juga menerima uang di luar kasus dugaan suap kerja sama distribusi pupuk. Tim KPK kemudian menemukan uang sejumlah Rp8 miliar di Kantor PT Inersia, perusahaan milik Bowo.

Uang sekitar Rp8 miliar dalam pecahan Rp20 ribu dan Rp50 ribu itu telah dimasukkan dalam 400 ribu amplop. Uang dalam amplop itu diduga bakal digunakan Bowo untuk 'serangan fajar' Pemilu 2019.

[Gambas:Video CNN] (sah/osc)