Bowo Sidik sendiri pernah 'bernyanyi' soal dugaan keterlibatan Nusron mengenai uang pada 400 ribu amplop rencananya digunakan untuk serangan fajar di Pemilu 2019.
"Ya semua yang terlibat dan disebut, biasanya kan kami mintai klarifikasi," kata Laode di Gedung ACLC KPK, Rabu (15/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nusron Wahid. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
"Kebutuhan-kebutuhan pemeriksaan terhadap pihak-pihak yang informasinya muncul di tahap penyidikan baik dari tersangka ataupun dari saksi terbuka kemungkinan dilakukan, tapi apakah akan dilakukan dalam waktu dekat atau apakah akan dilakukan pemanggilan untuk nama-nama tertentu itu nanti penyidik yang tahu," kata Febri.
Bowo diduga meminta komisi kepada PT HTK atas biaya angkut yang diterima sejumlah US$2 per metric ton. Ada enam kali penerimaan yang diduga telah terjadi sebelumnya di sejumlah tempat sebesar Rp221 juta dan US$85.130.
Lihat juga:Kasus Romi, KPK Panggil Sekjen Kemenag |
KPK mengendus Bowo juga menerima uang di luar kasus dugaan suap kerja sama distribusi pupuk. Tim KPK kemudian menemukan uang sejumlah Rp8 miliar di Kantor PT Inersia, perusahaan milik Bowo.
Uang sekitar Rp8 miliar dalam pecahan Rp20 ribu dan Rp50 ribu itu telah dimasukkan dalam amplop-amplop. Uang yang berada dalam 400 ribu amplop itu tersebut diduga bakal digunakan Bowo untuk 'serangan fajar' Pemilu 2019.
Bowo mengatakan mengatakan Nusron memerintahkannya untuk menyiapkan 400 ribu amplop yang akan digunakan untuk serangan fajar. Hal itu pun langsung dibantah oleh Nusron.
Nusron Wahid. (CNN Indonesia/Andry Novelino)