LIPUTAN KHUSUS

Tol Trans Jawa Vs Jalur Pantura di Mata Sopir Truk

CNN Indonesia | Selasa, 28/05/2019 12:59 WIB
Lewat tol memang nyaman namun harus siap-siap merogoh kocek lebih dalam. Sementara Pantura dengan kondisi jalan dan waktu tempuh lebih lama jelas lebih murah. Masih banyak pengemudi truk yang memilih melintas di jalur Pantura. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejak Tol Trans Jawa mulai digunakan, masyarakat punya alternatif selain jalur Pantai Utara (Pantura). Pilihannya mau cepat tapi malah, atau sedikit terlambat tapi dengan pengeluaran lebih murah.

Sopir truk ekspedisi seperti Anton yang paling merasakan setelah ada dua alternatif jalur ini.

Menurutnya, sejak ada tol Trans Jawa seperti Cikopo - Palimanan, ia punya waktu lebih banyak untuk libur dan bersama keluarga di rumah. Namun memang pengeluaran harus lebih banyak, tapi menurut Anton itu jadi urusan perusahaan tempatnya bekerja.


Pria 32 tahun ini sehari-hari membawa truk boks jenis Mitsubishi Fuso Canter dengan kapasitas empat ton dari Kemayoran, Jakarta Utara.
Tol TransJawa Vs Pantura di Mata Sopir Truk (EMBARGO)Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono

Saat CNNIndonesia.com menemani Anton mengemudi, ia mengaku tengah mengangkut produk fesyen untuk diantarkan ke beberapa tempat dari mulai Cirebon, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Semarang, Kudus, Surabaya, hingga Jember.

Anton melintasi empat provonsi yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Karena harus mampir di beberapa tempat, rute berangkat Anton harus melalui jalur Pantura. Sementara pulang ia akan melintasi tol dari mulai Surabaya hingga Jakarta.

Anton mengatakan, untuk sekali perjalanan, ia dibekali uang Rp4 juta. Uang ini dipakai untuk membeli bahan bakar minyak (BBM), bayar tol, makan, biaya penginapan dan kebutuhan operasional lain termasuk kebutuhan mendadak seperti pecah ban.

Seorang sopir menurut Anton harus berhati-hati dalam mengemudi kalau tidak ingin pengeluaran membengkak karena banyak biaya mendadak yang harus dikeluarkan. Misalnya jangan sampai sering pecah ban atau menyenggol mobil lain.

Jika tidak pintar-pintar, bisa saja sopir harus merogoh kocek sendiri untuk menutup biaya operasional yang membengkak itu.

Anton sedikit mengeluhkan biaya operasional sopir yang pas-pasan. Artinya saat banyak insiden mendadak yang mengharuskanya keluar uang, terpaksa honornya harus terpakai.

Uang Rp4 juta yang dibekalkan dengan asumsi ia harus melaju lewat tol sepanjang perjalanan pergi dan pulang. Artinya, jika Anton mau lewat jalur Pantura, ia bisa menghemat Rp300 ribu hingga Rp400 ribu.

Tapi selisih uang itu tak sebanding antara jalur tol dan nontol. Anton menyebut beda waktu tempuhnya sekitar 5 jam.

"Makanya bos saya bilang lewat tol aja biar lebih cepat, biar barang cepat sampai," kata Anton.

Dengan selisih hingga lima jam tersebut, Anton punya waktu lebih banyak untuk beristirahat saat tiba kembali di Jakarta untuk bersama keluarga.

Jika Anton punya pilihan untuk lewat tol atau lewat Pantura karena punya sangu cukup, tapi tidak dengan Rudi.

Pria 25 tahun ini harus bisa lebih menghemat pengeluaran di jalan lantaran statusnya sebagai sopir pengganti. Sopir pengganti seperti Rudi mendapat uang dari sisa uang operasional.

Karena itu Rudi lebih memilih lewat Pantura dengan harapan mendapat sisa uang operasional sekitar Rp300 ribu.

"Dengan cara seperti itu (lewat Pantura) sekali jalan saya bisa dapat Rp300.000 atau dalam sebulan bisa lah dapat Rp2 juta lebih," kata Rudi.

Ia akui jalur Pantura bukan pilihan nyaman bagi sopir seperti dirinya. Selain banyak jalan rusak, seringkali mereka harus berhadapan dengan pungutan liar yang dengan segala modusnya memaksa sopir mengeluarkan uang pribadi agar dapat tetap melintas dengan aman.

Menurut Anton, semenjak tersambungnya tol TransJawa pada 2018, kepadatan truk barang yang melintas di pantura berkurang drastis. Hal ini terlihat betul kami melewati ruas pantura dari Cirebon hingga Pekalongan. Warung-warung makan di sepanjang pinggir jalan yang biasanya dipenuhi sopir-sopir truk pun sepi.

Kepala Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) Danang Parikesit membenarkan bahwa sejak tol trans Jawa tersambung ada sambutan positif dari kalangan pengusaha. Selain muatan yang mereka kirim sampai lebih cepat, pengusaha bisa menekan ongkos kontrak mereka dengan perusahaan ekspedisi.

"Yang tadinya siklusnya tiga hari sekarang dua hari dari 10 kali siklus menjadi 15 kali siklus jadi pendapatan mereka bisa dimaksimalkan. Jadi perkiraan kita bisa turun  30 persen itu yang kontrak jangka panjang," ujar Danang.

Kendati demikian, keberadaan tol trans Jawa bukannya tak punya kekurangan. Danang mengakui ada dampak negatif seperti kurangnya area istirahat yang layak dan banyak usaha yang mati di sepanjang pantura. Bagi sopir truk barang, keberadaan area istirahat di ruas tol yang aman dan nyaman merupakan keharusan. Tanpa itu mereka mengaku tak bisa istirahat dengan tenang.

"Sewa bisa difasilitasi pemda atau CSR badan usaha kalau mau itu pertama kita dorong dan presiden sudah katakan 70 persen rest area diisi produk lokal, itu akan kita mulai dan tertibkan," kata Danang mengenai penciptaan rest area di ruas tol trans Jawa yang baru beroperasi. (bin/sur)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK