Inas bercerita konflik internal membuat Hanura terpecah dua kelompok. Salah satu kubu dipimpin oleh Daryatmo yang dikenal dengan Kubu Ambhara. Sementara kubu lainnya dipimpin Oesman Sapta Oedang (OSO) atau yang dikenal dengan kubu Manhattan.
Inas menyatakan kondisi itu menjadikan Hanura tidak solid. Perpecahan itu, kata dia, terjadi mulai dari tingkatan elite partai hingga ke tingkat akar rumput.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seharusnya hal ini tidak akan terjadi jika Pak Wiranto pada saat itu tidak mencla mencle dalam menyikapi dinamika di partai Hanura pada saat itu," kata dia.
"Tapi kadang [Wiranto] mengatakan bahwa Ketum Hanura tetap bang OSO. Padahal sikap yang ditunjukan oleh Wiranto tersebut, jelas-jelas mengkhianati kesepakatan serah terima Ketua Umum Hanura dari Wiranto kepada bang OSO," ucapnya.
"Sebagai mantan Panglima ABRI dan Menko Polhukam, Pak Wiranto seharusnya sangat faham bahwa membiarkan partai Hanura pecah pada awal tahun 2018, di saat Pemilu Legislatif sudah dekat, adalah strategi yang sangat buruk," kata Inas.
Inas menyayangkan tindakan dan sikap Wiranto kala itu. Andai Wiranto tegas meminta para kader Hanura di bawah pimpinan Daryatmo untuk loyal kepada OSO sebagai Ketua Umum yang sah kala itu, maka Hanura tidak akan jeblok dalam Pileg 2019.
"Maka Hanura tidak akan pecah seperti sekarang ini, dan konstituen pun tidak akan lari dari Hanura. Atau jangan-jangan justru ini merupakan strategi Pak Wiranto untuk menjatuhkan bang OSO? Who knows?" ujar Inas.
Wiranto mengaku penyesalan itu karena dirinya didesak harus bertanggung jawab atas kegagalan Hanura memenuhi ambang batas parlemen sebesar 4 persen.
"Kalau saya didesak terus seakan-akan Pak Wiranto yang salah. Kesalahan saya cuma satu ya, menunjuk Pak OSO menjadi Ketua Umum," ujar Wiranto di Hotel Grand Paragon, Jakarta, Kamis (16/5).
[Gambas:Video CNN] (rzr/osc)