Ketua DPP Inas Zubir Sebut Sikap Wiranto Bikin Hanura Jeblok

CNN Indonesia | Jumat, 17/05/2019 14:11 WIB
Ketua DPP Inas Zubir Sebut Sikap Wiranto Bikin Hanura Jeblok Ketua Dewan Pembina Hanura Wiranto. (ANTARA FOTO/Reno Esnir).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua DPP Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir menyebut jebloknya perolehan suara partainya pada Pileg 2019 karena konflik internal pada 2018. Menurut Inas, sikap eks Ketum Hanura Wiranto yang mencla-mencle membuat dampak yang signifikan hingga berimbas pada pileg tahun ini.

Inas bercerita konflik internal membuat Hanura terpecah dua kelompok. Salah satu kubu dipimpin oleh Daryatmo yang dikenal dengan Kubu Ambhara. Sementara kubu lainnya dipimpin Oesman Sapta Oedang (OSO) atau yang dikenal dengan kubu Manhattan.

Inas menyatakan kondisi itu menjadikan Hanura tidak solid. Perpecahan itu, kata dia, terjadi mulai dari tingkatan elite partai hingga ke tingkat akar rumput.


"Sehingga soliditas partai tidak lagi dapat dipertahankan dan konstituen pun akhirnya lari. Jadi tidak heran jika kursi Hanura hilang diberbagai daerah dan bahkan gagal menuju Senayan," kata Inas kepada CNNIndonesia.com, Jumat (17/5).

Inas pun menyayangkan sikap Wiranto yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Hanura. Inas melihat Wiranto mencla-mencle dalam menyikapi konflik internal Hanura.

Inas merasakan sikap itu telah memperlihatkan bahwa Wiranto tak memiliki sikap tegas bahkan terkesan membenarkan tindakan Hanura kubu Daryatmo untuk 'makar' terhadap OSO dan menggelar Munaslub sendiri.

"Seharusnya hal ini tidak akan terjadi jika Pak Wiranto pada saat itu tidak mencla mencle dalam menyikapi dinamika di partai Hanura pada saat itu," kata dia.

"Tapi kadang [Wiranto] mengatakan bahwa Ketum Hanura tetap bang OSO. Padahal sikap yang ditunjukan oleh Wiranto tersebut, jelas-jelas mengkhianati kesepakatan serah terima Ketua Umum Hanura dari Wiranto kepada bang OSO," ucapnya.

Inas juga menduga Wiranto terkesan membiarkan Hanura tetap terpecah dan tak memiliki solusi. Padahal dengan kondisi 'pincang' di awal 2018, Hanura tak bisa maksimal dalam menghadapi Pemilu 2019, khususnya pileg.

"Sebagai mantan Panglima ABRI dan Menko Polhukam, Pak Wiranto seharusnya sangat faham bahwa membiarkan partai Hanura pecah pada awal tahun 2018, di saat Pemilu Legislatif sudah dekat, adalah strategi yang sangat buruk," kata Inas.

Inas menyayangkan tindakan dan sikap Wiranto kala itu. Andai Wiranto tegas meminta para kader Hanura di bawah pimpinan Daryatmo untuk loyal kepada OSO sebagai Ketua Umum yang sah kala itu, maka Hanura tidak akan jeblok dalam Pileg 2019.

"Maka Hanura tidak akan pecah seperti sekarang ini, dan konstituen pun tidak akan lari dari Hanura. Atau jangan-jangan justru ini merupakan strategi Pak Wiranto untuk menjatuhkan bang OSO? Who knows?" ujar Inas.

Wiranto sendiri sebelumnya sudah merespons terkait perolehan suara Hanura pada Pileg 2019 yang tak sesuai target. Wiranto menyatakan menyesal telah memilih Oesman Sapta Odang alias OSO sebagai Ketua Umum Hanura.

Wiranto mengaku penyesalan itu karena dirinya didesak harus bertanggung jawab atas kegagalan Hanura memenuhi ambang batas parlemen sebesar 4 persen.

"Kalau saya didesak terus seakan-akan Pak Wiranto yang salah. Kesalahan saya cuma satu ya, menunjuk Pak OSO menjadi Ketua Umum," ujar Wiranto di Hotel Grand Paragon, Jakarta, Kamis (16/5).

[Gambas:Video CNN] (rzr/osc)