JAKARTA LEPAS MALAM

Nasib Terapis Pijat Siasati Aturan Ramadan ala Anies

CNN Indonesia | Senin, 20/05/2019 09:27 WIB
Nasib Terapis Pijat Siasati Aturan Ramadan ala Anies Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dara -bukan nama sebenarnya- pemain lama dalam dunia terapis pijat. Perempuan berusia 27 tahun itu sudah melakoni pekerjaannya selama tiga tahun. Tak ada lagi kecemasan dan ketakutan Dara saat bekerja melayani para tamu, kecuali selama Ramadan.

Cemas dan takut yang dirasakan Dara selama Ramadan lantaran harus bermain 'solo' dengan cara menerima panggilan dari hotel ke hotel. Dia terpaksa melakoni itu untuk menyiasati griya pijat tempatnya bekerja yang tidak beroperasi sepanjang Ramadan. 

Pemprov DKI Jakarta lewat surat edaran nomor 162/SE/2019 memang melarang griya pijat beroperasi selama Ramadan ini. Tak terbayang oleh Dara menghidupi keluarganya di Subang, Jawa Barat, selama Ramadan, bila mengikuti aturan Pemprov DKI.
 
Salah satu kekhawatiran Dara saat berkencan di hotel adalah kemungkinan para tamunya melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Belum lagi ancaman razia oleh aparat.



"Walaupun sudah kenal, kita kan enggak pernah tahu tamu kita bakal gimana-gimana di hari itu," kata Dara saat ditemui.

Dara mencoba mengurangi risiko itu dengan lebih selektif menerima panggilan para tamu. Tetapi hal itu tak sepenuhnya mengusir ketakutan. Dara merasa jauh lebih aman jika bekerja reguler sebagai terapis sebuah griya pijat.

Di griya pijat para tamu tak bisa melakukan hal-hal yang menjurus tindak kriminal. Pihak manajemen membuat aturan dan pengamanan yang cukup ketat.

Namun Dara tak menampik sisi positif yang ia dapatkan selama bersolo karier dari hotel ke hotel. Uang saat bekerja sendiri, menurutnya, lebih banyak dari biasanya.

Sekali kencan di hotel Dara mengaku bisa mematok harga Rp750 ribu hingga Rp2 juta, untuk durasi rata-rata sekitar 90 menit hingga tiga jam.

Angka itu jauh lebih tinggi dari upah sebagai terapis di griya pijat yang hanya sekitar Rp450 ribu dalam satu sesi berdurasi 60 menit. Uang itu pun belum dipotong untuk griya sekitar Rp120 ribu hingga Rp150 ribu.

Dengan penghasilan yang bertambah, Dara tak perlu lagi khawatir menafkahi anaknya di Subang. Uang jajan dan baju lebaran untuk buah hati pun sudah terbayang saat kelak dirinya mudik.

"Lebaran nanti pasti mudik dong," kata dia.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Edy Junaedi sebelumnya mengatakan pemberlakuan aturan tersebut sudah disosialisasikan kepada para pengusaha hiburan. Surat edaran itu sendiri berpijak pada Peraturan Gubernur Nomor 18 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Pariwisata yang diteken oleh Anies Baswedan.

"Kami juga sudah menempelkan stiker informasi di tempat usaha pariwisata. Tujuannya, agar aturan ini bisa dipatuhi," katanya dalam keterangan resmi.

Aturan itu menyatakan jenis usaha hiburan yang wajib tutup satu hari sebelum dan selama bulan Ramadan, serta Hari Raya Idul Fitri dan satu hari setelahnya meliputi kelab malam, diskotek, mandi uap, rumah pijat, arena permainan ketangkasan maupun bar yang berdiri sendiri atau yang terdapat pada jenis usaha pariwisata tersebut.


Cerita Terapis Pijat Bergumul Nafkah dan Batin Selama RamadanIlustrasi. (Foto: Istockphoto/skynesher)



Merosot Tajam

Di tempat lain, Hesti, seorang terapis griya pijat di bilangan Jakarta Selatan, juga berganti arena kerja. Bedanya dengan Dara, pendapatan Hesti selama bekerja di hotel dalam satu bulan ini justru merosot tajam.

Penurunan pendapatan karena Hesti bekerja di hotel yang masih satu manajemen dengan griya pijat tempatnya bekerja. Ditambah, selama Ramadan, jumlah tamu menyusut cukup drastis.

"Berkurang banget lah. Padahal ngejar buat lebaran, tapi ya enggak apa-apa lah," tutur Hesti dengan nada pasrah.

Hesti punya dua anak dan seorang suami. Ia tinggal di sebuah rumah kontrakan di Depok, Jawa Barat. Pada hari biasa di luar Ramadan, ia bisa mengantongi uang hingga Rp8 juta dalam sebulan.

Jumlah itu ia dapat jika dalam sehari bisa melayani lima tamu. Namun dengan kondisi sekarang, tamu yang bisa dia layani dalam sehari hanya dua orang saja.

Uang yang didapat Hesti pun cuma berkisar Rp200 ribu hingga Rp400 ribu dalam sehari, belum dikurangi potongan untuk griya.

"Soalnya kan kita juga enggak bisa lama-lama kerja seperti biasanya, kan. Tahu sendiri, lah," tutur Hesti.

Ingin Berpuasa

Hesti sudah dua tahun menjadi terapis pijat. Waktu selama itu telah mengikis kecanggungannya saat melayani para tamu. Termasuk mengikis pergumulan batinnya ketika bekerja selama Ramadan.

Namun, Hesti bukannya tanpa keinginan. Seperti orang kebanyakan, Hesti mengaku ingin menunaikan kewajiban berpuasa dan rutinitas lainnya.

Dia ingin memasak hidangan sahur dan berbuka, serta berkumpul dengan keluarga sepanjang Ramadan. Tetapi, profesinya sebagai terapis membuat keinginan-keinginan itu sulit terwujud.

Untuk berkumpul bersama keluarga, hal itu jelas mustahil dilakukan. Hesti mengatakan menghabiskan waktu bersama keluarga selama Ramadan bisa mengurangi jatah pendapatannya.

Sekarang, yang mampu dilakukan Hesti setiap Ramadan praktis hanya berpuasa. Pun, tidak setiap hari Hesti bisa berpuasa.

Terkadang ia tak berpuasa karena harus melayani tamu. Sambil tersipu, Hesti mengaku Ramadan tahun ini belum sekalipun menjalani puasa.

"Kerja begini di bulan puasa sudah biasa aja, sih. Enggak terlalu mikirin. Yang penting buat anak, itu yang utama," ujar Hesti. (bin/gil)