Polda Jatim Tetap Usut Kasus Tur Jihad

CNN Indonesia | Selasa, 21/05/2019 01:45 WIB
Polda Jatim Tetap Usut Kasus Tur Jihad Koordinator Tour Jihad Surabaya, Muhammad Roni, minta maaf d Polda Jatim. (CNN Indonesia/Farid Miftah Rahman)
Surabaya, CNN Indonesia -- Meski penyelenggara Tour Jihad 22 Mei Surabaya-Jakarta telah menyampaikan permohonan maaf kepada kepolisian dan publik secara tertulis dan bermaterai, Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) tetap mendalami kasus tersebut.

"Terkait permohonan maaf dan lain sebagainya proses hukum akan tetap jalan," kata Kapolda Jatim, Irjen Luki Hermawan, saat ditemui di Mapolda Jatim, Surabaya, Senin (20/5).
Luki menyebut, pihaknya telah mengamankan sebanyak empat orang penyelenggara Tour Jihad Surabaya Jakarta. Empat orang yang diamankan yakni berinisial R, C, P, dan M. Lalu ada satu orang lain inisial A, yang masih sakit.

Pemeriksaan penyelenggara tersebut dilakukan atas dasar laporan organisasi masyarakat yang merasa bahwa Jihad Tour tersebut telah meresahkan.


"Yang A masih sakit, dia perempuan. Masih diperiksa kesehatannya. Kami memeriksa mereka berdasarkan pengaduan dari masyarakat adanya organisasi yang mengadu," kata Luki.

Dari hasil pemeriksaan sementara, keempat orang tersebut memiliki pembagian tugas masing-masing dalam program Tour Jihad yang mereka buat. Bahkan kini sudah ada 36-38 orang pendaftar.

"Itu memang ada beberapa pembagian tugas ada yang jadi bendahara, ada membuat akun dan ada yang jadi koordinator. Kemarin sudah ada yang mengirim pendaftaran sekitar 36-38 orang, yang lainnya masih banyak yang pesen tapi belum ada yang membayar, untuk sementara kami akan dalami," ujar dia.
Namun, mengatakan, hingga saat ini status keempat orang tersebut masih sebagai terperiksa. Namun mereka berpeluang dikenakan Pasal 160 dan 151 KUHP tentang penghasutan.

"Hingga saat ini sedang kami periksa secara marathon. Masih terperiksa dan kami masih berkoordinasi dengan beberapa saksi lain lagi," ujar Luki.

Jika keempat orang tersebut terbukti bersalah dan resmu tersangka, nantinya mereka terancam hukuman lebih dari 5 tahun penjara.

"Hingga saat ini belum kami tetapkan sebagai tersangka. Ancaman penjaranya lebih dari 5 tahun, jadi bisa ditahan. Oleh karena itu akan kami akan dalami terus untuk mencari tahu siapa aktor intelektualnya. Nanti kami putuskan," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN] (frd/ayp)