Faktor Kaum Miskin Kota, Demokrat Minta Jokowi-Prabowo Bersua

CNN Indonesia | Jumat, 24/05/2019 03:24 WIB
Faktor Kaum Miskin Kota, Demokrat Minta Jokowi-Prabowo Bersua Politikus Partai Demokrat Andi Arief. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief menyebut ada hal mendesak yang membuat pentingnya pertemuan antara calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo dengan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto. Yakni, kaum miskin perkotaan dan perlawanannya saat ada desakan ekonomi.

"Pemilu dan perseteruan elite hanya pemanas munculnya ekspresi kaum miskin perkotaan korban langsung Pelambanan ekonomi. Namun kaum miskin perkotaan biasanya militansi dadakan dan tidak bertahan lama," kata Andi Arief seperti dikutip CNNIndonesia.com melalui akun twiter resminya @andiarief__, Kamis (23/5).


"Mengapa Pak Jokowi dan Pak Prabowo harus segera bertemu, ada urgensinya," dia menambahkan.


Sebelumnya, massa aksi 22 Mei melakukan unjuk rasa anarkistis di sekitar gedung Bawaslu, Tanah Abang, Slipi, Petamburan. Mereka menuntut penuntasan kasus dugaan kecurangan pemilu dan mendesak diskualifikasi Jokowi dari Pilpres 2019.

Massa menyerang petugas dengan petasan dan batu serta molotov, melakukan pembakaran dan perusakan fasilitas umum. Hingga Kamis (23/5) pagi, polisi masih menyisir massa rusuh, terutama di perkampungan di Tanah Abang, Jakarta.


Andi melanjutkan bahwa dua capres itu memiliki basis pendukung yang berbeda seperti dipaparkan oleh sejumlah survei. Bahwa Jokowi memiliki pendukung dari kalangan menengah ke bawah di pedesaan. Sementara, Prabowo meraih dukungan dari kalangan miskin kota.

Walhasil, katanya, tuntutan yang muncul dalam aksi 21-22 Mei, yang digawangi oleh kalangan urban, berbeda dengan hasil rekapitulasi KPU yang menempatkan Jokowi sebagai pemenang Pilpres 2019.

"Masyarakat menengah ke bawah pedesaan mayoritas pendukung Pak Jokowi, namun miskin perkotaan sebaliknya. Itulah mengapa ekspresi politik dan keluar dalam slogan politik dan tuntutan 21 -22 Mei berbeda dengan kenyataan hasil pemilu," tutur Andi.


Sebelumnya, hasil survei lembaga asal Australia, Roy Morgan, di awal tahun, menyebut Jokowi unggul di wilayah pedesaan dengan elektabilitas 63 persen, sementara Prabowo 37 persen. di Daerah perkotaan, Jokowi memiliki suara 51,5 persen, sementara Prabowo 48,5 persen, atau meningkat 6 persen dari sebelumnya.

Di sisi lain, Andi mewanti-wanti soal militansi kalangan miskin perkotaan, terutama saat situasi politik atau ekonomi memanas.

"Sejarah perlawanan rakyat Jakarta adalah sejarah perlawanan kaum miskin kota (lumpen). Mereka yang terkena langsung pelambanan ekonomi. Mereka keluar dari kampung-kampung tidak terpimpin, miliki militansi di saat politik memanas akibat ulah perseteruan elite," katanya.


Hal itu bisa dilihat dari sejarah perlawanannya saat politik dan ekonomi memanas. Misalnya, peristiwa 1974, 1978, 1982, 1986, 1996, dan 1998. Hal itu, katanya, terjadi dari kampung-kampung sepanjang Senen, Manggarai, Matraman, Otista, Pasar Minggu.

"Rusuh 21-22 Mei fenomena baru perlawanan keluar dari kampung-kampung berdekatan dengan Bawaslu," ucapnya.

Diketahui, Jokowi mengaku sudah berinisatif bertemu Prabowo setelah hari pencoblosan 17 April. Namun, niat itu belum mendapatkan tanggapan positif dari rival politiknya tersebut.


Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyebut tak ada sama sekali niat dari pihaknya untuk menemui Jokowi.

Andai Jokowi ingin bertemu dengan Prabowo, kata dia, maka hanya kepala media center dan Jubir BPN saja yang akan menerimanya.

[Gambas:Video CNN] (sas/arh)