Sisa Trauma Demo 22 Mei di Kebon Kacang

CNN Indonesia | Kamis, 23/05/2019 13:58 WIB
Sisa Trauma Demo 22 Mei di Kebon Kacang Unjuk rasa memprotes hasil Pilpres 2019 yang berakhir rusuh pada 21 dan 22 Mei kemarin menyisakan trauma bagi warga di wilayah Kebon Kacang, Kecamatan Tanah Abang Jakarta Pusat. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)
Jakarta, CNN Indonesia -- Unjuk rasa memprotes hasil Pilpres 2019 yang berakhir rusuh pada 21 dan 22 Mei kemarin menyisakan trauma bagi warga di wilayah Kebon Kacang, Kecamatan Tanah Abang Jakarta Pusat.

Wilayah Kebon Kacang merupakan kawasan yang disisir oleh kepolisian untuk mencari sisa massa anarkistis saat demo 22 Mei.

Sari (37), misalnya. Warga yang tinggal Jalan Kebon Kacang VIII itu mengaku masih trauma atas kejadian tersebut.


Memorinya langsung teringat tentang suara tembakan demi tembakan gas air mata yang dilepas kepolisian untuk menetralisir massa pada tanggal 22 Mei dini hari kemarin.

Saat itu, ia sedang tertidur di dalam rumah petak yang sehari-harinya juga dijadikan tempat Warung Kopi (Warkop).

Tiba-tiba ia terbangun sekitar pukul 02.30 WIB. Dia mendengar suara ramai kerumunan massa yang berlari-lari di jalanan. Tak berselang lama kemudian, ia mendengar suara tembakan bertubi-tubi yang dilepas kepolisian.

"Saya kaget, 'suara apaan tuh?' saya intip keluar, tapi tidak (berani) keluar, soalnya takut dengar suara tembakan gitu. Kedengaran sekali sampai dalam [rumah]," kata Sari saat ditemui CNNIndonesia.com.
Trauma 22 Mei di Kebon KacangMassa Aksi 22 Mei berhadapan dengan aparat di depan Bawaslu. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Sari ketika itu menyaksikan massa aksi berlari-larian menghindari kepolisian di sepanjang Jalan Kebon Kacang VIII hingga Jalan Kebon Kacang XI.

Meski begitu, ia tak mengetahui persis apakah massa yang ricuh tersebut merupakan penduduk asli daerah Kebon Kacang.

"Tidak tahu juga warga mana. Saya tidak paham betul, karena ramai dan takut juga untuk keluar rumah," kata dia

Menjelang pagi, Rabu (22/5), Sari tak berani untuk membuka warung kopinya seperti biasa. Sari masih waswas dengan kejadian yang dia saksikan sepanjang malam.

Hal itu turut disepakati oleh warga di Jalan Kebon Kacang VIII lainnya yang kompak tak ingin membuka warungnya sampai kondisi kondusif.

"Sama warga sini kita sepakat, kemarin kita tidak usah buka warung dulu seharian. Semuanya masih ketakutan," kata Sari.
Trauma 22 Mei di Kebon KacangPerempuan bercadar membawa ransel mencurigakan saat aksi di kawasan Thamrin, Kamis (23/5) dini hari. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)

Sari mengaku baru kali ini melihat kerusuhan massa di wilayahnya semenjak 11 tahun tinggal di Kebon Kacang.

Meski demikian, ia mengatakan kondisi di wilayah Kebon Kacang saat ini sudah berangsur pulih sejak subuh (23/5) pagi tadi.

"Terus terang baru kali ini melihat rusuh kaya gini. Serem, masih keingetan gitu ya," kata dia.

Agus (48), warga RW 5 Kebon Kacang mengatakan kelompok massa yang ricuh itu banyak yang kocar kacir untuk mencari persembunyian ke Jalan Kebon Kacang VI hingga ke Kebon Kacang VIII saat dikejar kepolisian.

"Memang banyak massa yang lari-lari banyak ke wilayah situ buat ngumpet, tapi banyak memang di sini (Jalan Kebon Kacang VI), tidak tau juga itu siapa," kata Agus.

Agus menyaksikan sendiri kepolisian melakukan penyisiran untuk menangkap massa rusuh yang bersembunyi. Ia mengatakan ada satu massa yang tertangkap oleh polisi saat berusaha bersembunyi di wilayah tersebut.

"Pas rusuh di malam pertama ada yang ditangkap, saya lihat sendiri itu. Tapi tidak tahu siapa, lagi ngumpet kayaknya," kata dia.
Trauma 22 Mei di Kebon KacangAparat dilempari bom molotov saat aksi 22 Mei. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Meski begitu, Agus menyatakan tak ada kerugian materil yang ditimbulkan usai kerusuhan itu di wilayah tersebut. Ia menyatakan kejadian tersebut hanya menimbulkan trauma bagi dirinya dan warga setempat.

"Jam 4 pagi tadi udah kondusif, Polisi, TNI juga banyak disini tadi sampai pagi," kata dia.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, kondisi kini sudah mulai kondusif di wilayah Jalan Kebon Kacang VI, Kebon Kacang VIII hingga Kebon Kacang XI. Sudah banyak toko, warung dan PKL yang mulai berjualan di wilayah tersebut.
[Gambas:Video CNN] (rzr/gil)