Pamit Sahur dan Bukber, Warga Hilang Saat Kerusuhan 22 Mei

CNN Indonesia | Kamis, 23/05/2019 18:30 WIB
Pamit Sahur dan Bukber, Warga Hilang Saat Kerusuhan 22 Mei Seorang warga mengamati daftar nama korban luka kericuhan di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, Rabu (22/5). (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Andi, warga Jakarta Pusat, berjalan masuk ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Budi Kemuliaan, Jakarta Pusat. Ia berhenti di depan satpam dan mengeluarkan ponsel, lalu menyebut beberapa nama.

Pria itu mencari dua temannya yang hilang sejak Rabu (22/5) dini hari.

"Namanya Eko Purbo dan Misbahun Syamsudin yang hilang itu. Terakhir ketemu saat di Wahid Hasyim, saat buka posko logistik. Buat bagi-bagi takjil, sahur, untuk acara sosial," kata Andi di RS Budi Kemuliaan, dikutip Antara, Kamis (23/5).


Teman Andi itu tak bisa ditemukan sejak kericuhan pecah di daerah sekitar Sarinah, Jakarta Pusat. Selepas pukul 24.00 WIB, Eko dan Misbahun pamit pergi melihat kericuhan saat mereka bersiap membagikan makanan di dekat Thamrin City.


"Mungkin teman-teman menyebar, mau lihat kejadian, tapi ternyata mereka tidak bisa ditemukan sampai sekarang. Motor mereka ketemu, satu di HI, yang satu lagi di Slipi," ujarnya.

Andi sudah mendatangi ke RSUD Tanah Abang dan RSUD Tarakan untuk mencari kedua temannya. Ia pun berencana mencari ke RS Pelni dan RS Cipto Mangunkusumo.

"Dua orang itu yang tidak jelas. Apa tertangkap, apa tertembak," ujarnya.

Andi belum berani datang ke kantor polisi karena menurutnya prosedur pencarian orang hilang atau penangkapan akan membutuhkan waktu.

"Kalau petugas mungkin tidak dulu. Mungkin 3x24 jam baru mereka ada kabar, karena ada BAP dan segala macam," ujar dia.

Warga Hilang di Tengah Kerusuhan 22 MeiMassa dan aparat keamanan bentrok di depan Bawaslu, Jakarta, Rabu (22/5). (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Andi mengatakan kecil kemungkinan temannya merupakan bagian massa yang melakukan kericuhan di sekitar Sarinah dan Tanah Abang. Menurut dia, temannya datang hanya untuk berbuat amal.

"Posisi kami hanya bagi-bagi logistik saja dan mereka sebenarnya hanya ingin lihat. Rencananya kami akan sampai berbuka esok harinya, tidak tahunya ada kejadian seperti ini. Kita setop dulu, karena teman-teman pada hilang," ujarnya.

Pria itu masih akan berusaha mencari kejelasan nasib kedua temannya, meski harus berkunjung ke beberapa rumah sakit.

"Yah, kami periksa rumah sakit dulu lah. Kalau memang ada di sana, bagaimana kondisinya. Kalau tidak ada, ya kemungkinan besar ditangkap," katanya.

Hilang Usai Pamit Buka Puasa

RSUD mencatat telah menerima 169 pasien, 11 di antaranya masih menjalani rawat inap hingga saat ini. Beberapa anggota keluarga mencari keberadaan kerabatnya satu per satu.

Pihak rumah sakit telah menyediakan empat papan pengumuman yang menampilkan daftar korban yang dirawat agar memudahkan keluarga.

Nurhayati salah satunya. Ia tiba di RSUD Tarakan bersama suaminya, Fariq. Nurhayati langsung menyisir satu per satu daftar korban di papan pengumuman. Anaknya yang dicari bernama Muhammad Rizki.

Dalam daftar nama itu, Nurhayati sebenarnya menemukan nama Rizki. Namun, setelah dicek ke pihak rumah sakit, ternyata bukan anaknya.

Warga Hilang di Tengah Kerusuhan 22 MeiKeluarga korban aksi 22 Mei mencari kerabat di RSUD Tarakan. (CNN Indonesia/Patricia Diah Ayu Saraswati)
Anaknya itu tak bisa dihubungi dan belum pulang hingga kini.

"Anak saya pamit jam 09.00 WIB pagi kemarin sama temannya. Katanya, bukber (buka puasa bersama) di Thamrin," ujar Nurhayati saat ditemui RSUD Tarakan.

Nurhayati mengatakan Rizki pergi bersama seorang temannya yang tinggal di Petamburan. Menurut dia, selama ini Rizki tidak suka mengikuti kegiatan aksi. "Enggak suka rusuh-rusuh gitu," ujarnya.

Ia baru mendatangi RSUD Tarakan untuk mencari keberadaan anaknya. Sebelumnya, ia sempat mengecek ke daerah Petamburan, tapi hasilnya nihil.

Selain Nurhayati, Eva juga mendatangi RSUD Tarakan untuk mencari keponakannya, Rafli. Menurut Eva, Rafli pamit pergi untuk mengikuti pengajian di Petamburan. Hingga kini ia tak kunjung pulang.


Eva mengatakan Rafli sempat berada di seputar wilayah Thamrin. Namun, menurutnya keberadaan Rafli bukan untuk mengikuti aksi tapi hanya melintas untuk pulang ke rumahnya di Kalideres.

"Dia enggak main, itu arah pulang, habis ngaji di Petamburan," ucap Eva.

Eva khawatir lantaran keponakannya itu tak membawa ponsel, bahkan tak membawa uang. Ia pun cemas keponakannya justru terkena gas air mata saat kerusuhan pecah di depan Kantor Bawaslu.

"Dari Petamburan mau pulang lewat Thamrin, namanya anak-anak. Takutnya kena gas air mata," tuturnya.

[Gambas:Video CNN] (dis/pmg)