Dompet Dhuafa Anggap Kasus Penganiayaan di 22 Mei Selesai

CNN Indonesia | Jumat, 24/05/2019 19:11 WIB
Dompet Dhuafa Anggap Kasus Penganiayaan di 22 Mei Selesai Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi Imam Rulyawan dengan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo melakukan jumpa pers bersama usai audiensi di Mabes Polri, Jakarta, 24 Mei 2019. (CNN Indonesia/Gloria Safira Taylor)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Kemanusiaan Dompet Dhuafa menggelar audiensi dengan Kepolisian RI (Polri) membahas pasca dugaan pengeroyokan yang dilakukan aparat pada anggota tim medis di kerusuhan yang terjadi Kamis (23/5) dini hari.

Pertemuan itu dilakukan Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi Imam Rulyawan dengan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (24/5).

Usai pertemuan itu, Imam mengatakan dua belah pihak sepakat dengan rencana penerbitan Telagram Rahasia (TR) Mitigasi. TR Mitigasi dibuat agar polisi yang bertugas dapat menjamin keamanan tim medis di tengah kerusuhan.


Menurut Imam, TR Mitigasi menjadi solusi yang baik untuk lembaga kemanusiaan bergerak di peristiwa-peristiwa yang berpotensi menimbulkan korban.


Imam pun mengatakan pihaknya tidak akan menuntut apapun ke pihak kepolisian. Peristiwa yang terjadi pada 22 Mei itu pun dianggapnya telah selesai.

"Tidak, tidak ada (tuntutan). Iya (selesai)," ujar Imam.

Sementara itu Dedi mengatakan yang terpenting dalam audiensi itu adalah upaya di masa mendatang guna menghindari terjadinya peristiwa serupa.

Nantinya, para tim medis dari lembaga kemanusiaan manapun akan diminta untuk menggunakan identitas yang jelas. Selain itu, sambungnya, harus ada komunikasi dengan Kabid Humas Polda setempat ketika lembaga kemanusiaan ingin turun membantu.

Hal itu supaya Kabid Humas Polda dapat memberitahukan ke pimpinan polres-polres wilayah supaya memberitahukan kepada pasukannya soal ambulans dari lembaga mana saja yang akan datang.

Dedi menjelaskan pada peristiwa 21-22 Mei kemarin tidak dipungkiri terdapat oknum yang memanfaatkan ambulans untuk menyiapkan alat-alat kerusuhan. Maka itu pihaknya mengantisipasi penyusup yang datang ke aksi.

Sebelumnya, di tengah kerusuhan 22 Mei lalu di Jalan MH Thamrin, sebuah ambulans milik tim Dhuafa dan petugas medis di dalamnya mendapatkan kekerasan diduga dilakukan aparat.

Di Mabes Polri, Imam mengatakan pihaknya mengkritik dan kecewa atas peristiwa yang menimpa tim medisnya kala bertugas membantu korban kerusuhan 22 Mei 2019. Diketahui tiga anggota tim medis harus dilarikan ke RSPAD lantaran mengalami luka-luka akibat dipukuli yang diduga dilakukan aparat.

"Kami menyayangkan kejadian ini karena dengan beberapa latar belakang. Latar belakang pertama tentu polisi dalam keadaan lelah dan Dompet Dhuafa dalam keadaan lelah, tim medis kami bisa memahami itu sehingga kami menyayangkan kejadian itu yang paling penting ke depan tidak terulang," tegasnya.

(gst/kid)