Ambulans itu bernomor polisi B 1132 KIX. Namun kini kendaraan medis itu telah disita sebagai barang bukti.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo mengatakan ambulans tersebut digunakan untuk mengelabui polisi dan masyarakat yang bertugas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sopir sama kernetnya yang membagikan duit, busur, dan bambu runcing," ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal M Iqbal menyebut ada dua tersangka perusuh pada Aksi 22 Mei yang terafiliasi dengan Gerakan Reformis Islam (GARIS). Dari pengakuan tersangka, keduanya berniat untuk melakukan aksinya pada 21 dan 22 Mei.
"Kami menemukan dua tersangka dari luar Jakarta yang terafiliasi dengan kelompok GARIS. Mereka memang niat untuk berjihad," ujar Iqbal saat memberikan keterangan di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Kamis (23/5).
Namun dia membantah memerintahkan anggotanya untuk terlibat rusuh dalam Aksi 22 Mei. Sebaliknya, Chep mengaku para anggotanya dikirim untuk menjadi tim medis menggunakan dua mobil ambulans.
"Delapan anggota, berangkat dengan dua ambulans. Mereka tidak diperintahkan untuk unjuk rasa atau jihad," kata Chep kepada CNNIndonesia.com saat dikonfirmasi, Kamis (23/5).
Namun demikian, Chep enggan merinci keahlian medis para pemuda yang ia kirim ke Jakarta. Menurutnya, para anggota tersebut berasal dari santri di beberapa pesantren dan baru magang menjadi tim medis.
Chep juga membantah GARIS memberikan donasi atau pendanaan Aksi 22 Mei. Adapun jika ditemukan uang dalam jumlah tertentu oleh aparat, kata dia, merupakan uang titipan yang diberikan oleh sejumlah pengusaha muslim Cianjur dan Pondok Pesantren.
"Untuk diberikan sebagai THR kepada fakir miskin di Jakarta," ujar Chep.
[Gambas:Video CNN] (gst/osc)