Luhut Klaim Negara Besar Jawab 'Yes' Soal Pemilu 2019 Jurdil

CNN Indonesia | Senin, 27/05/2019 04:31 WIB
Luhut Klaim Negara Besar Jawab 'Yes' Soal Pemilu 2019 Jurdil Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengklaim pemilu Indonesia mendapat pengakuan dari dunia luar. (CNN Indonesia/Harvey Darian)
Surabaya, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Kemaritiman RI Luhut Binsar Pandjaitan mengklaim ucapan selamat dari sejumlah negara besar terkait gelaran Pemilu 2019 merupakan tanda bahwa pesta demokrasi itu dilakukan secara jujur dan adil.

Menurutnya, ucapan selamat itu terkait kemenangan pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin dan apresiasi atas kesuksesan Pemilu 2019. Luhut menyebut negara-negara besar itu juga menilai pemilu Indonesia sebagai yang terbaik di dunia.

"Tanggal 22 Mei kemarin hampir 10 [negara] yang saya tahu, kepala negara sudah melakukan selamat kepada Pak Jokowi, mulai Amerika, Rusia, China, Australia, Jepang, Korea, Asean semua sudah," kata Luhut saat ditemui di Surabaya, Minggu (26/5) malam.

"Saya bahkan dengan duta besar Amerika, berapa hari lalu, dan juga Dubes China ke kantor, dan Rusia, yg besar-besar itu, ada juga Singapura itu semua mengatakan bahwa pilpres di Indonesia ini salah satu pemilihan presiden terbaik di dunia," tambahnya.

Menurut Luhut, hal itu berarti pengakuan negara-negara itu atas keberhasilan Indonesia menyelenggarakan pemilu yang jujur dan adil (jurdil).

"Kalau negara besar ini sudah mengucapkan selamat, tentu mereka juga melihat apakah pemilu itu dilakukan dengan jurdil, dan itu mereka mengatakan 'yes'," cetusnya.

Lebih lanjut, para perwakilan negara besar itu, kata Luhut bahkan menyebut Indonesia seharusnya berbangga, sebab pemilihan presiden, DPD, DPR RI, DPRD kota dan DPRD provinsi berhasil digelar serentak dengan memakan waktu hanya enam jam lamanya.

Apalagi, tingkat partisipasi masyarakat Indonesia dalam Pemilu 2019 kali ini mencapai 81 persen atau diikuti oleh 153 juta pemilih. Jumlah tersebut kata Luhut telah melebihi partisipasi Pemilu Amerika 2016.

"Jadi negara kita ini sebenarnya negara demokratis terbesar nomor 1 di dunia, karena Amerika itu peserta yang qualified ikut pemilu 230 juta, tapi karena yang hadir cuma 50 sekian persen, maka yang datang ke TPS itu kira-kira hanya 130 juta," kata dia.

Sebelumnya, pihak paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menyatakan tak menerima hasil rekapitulasi KPU dan menuding ada kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan masih dalam Pilpres 2019. Kubu 02 pun mengadukannya ke Mahkamah Konstitusi.

Selain itu, Pemilu 2019 diwarnai dengan kematian ratusan anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang menuai polemik.

[Gambas:Video CNN]


(frd/arh)