Bawahan Eks Danjen Kopassus Ungkap Janggal Senjata Selundupan

CNN Indonesia | Jumat, 31/05/2019 20:36 WIB
Bawahan Eks Danjen Kopassus Ungkap Janggal Senjata Selundupan Eks Danjen Kopassus Soenarko dituding selundupkan senjata untuk aksi 22 Mei. (Detikcom/Rengga Sancaya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kolonel Inf (purn) Sri Radjasa Chandra menganggap tuduhan yang ditujukan kepada eks Danjen Kopassus Mayjen TNI (purn) Soenarko terkait penyelundupan senjata tidak benar. Dia meyakini hal itu karena pernah menjadi bawahan Soenarko di Kodam I Iskandar Muda.

"Jadi itu bohong kalau dikatakan senjata itu dikirim dalam rangka untuk kegiatan 22 Mei. Itu bohong," kata Radjasa saat konferensi pers di Jakarta, Jumat (31/5).

Radjasa menjelaskan bahwa sekitar 2009 silam, Staf Intel Kodam I Iskandar Muda menerima tiga pucuk senjata secara sukarela dari masyarakat Aceh Utara. Dua buah AK-47 dan satu buah M16A1.


"Kebetulan tiga pucuk diserahkan kepada saya di antaranya dua pucuk AK-47 dan satu pucuk senjata M16A1 laras pendek," ucap Radjasa

Kondisi senjata tersebut, kata Radjasa, sudah tidak layak untuk digunakan di pertempuran. Radjasa lalu melaporkan kepada Soenarko yang saat itu menjabat sebagai Panglima Kodam I Iskandar Muda. Setelah itu, Radjasa mengaku diperintah Soenarko untuk  menaruh dua senjata AK-47 di gudang. 


Memasuki tahun 2018, Radjasa mengatakan Soenarko meminta dirinya agar mengirim senjata tersebut ke Jakarta. Tujuannya untuk disimpan di Museum Kopassus.

"Satu pucuk M16A1 simpan di kantor sintel yang rencananya akan diberikan pada Museum Kopassus," kata Radjasa.

Radjasa tidak sempat menjalankan permintaan Soenarko. Kala itu Radjasa sudah ditugaskan di Jakarta. Bukan lagi di Kodam I Iskandar Muda, Aceh. Soenarko sendiri juga sudah tidak bertugas sebagai Pangdam Iskandar Muda.

Radjasa mengatakan perintah mengirimkan senjata M16A1 juga diberikan kepada Heriansyah, seorang sipil yang membantu Soenarko saat menjabat sebagai Pangdam Iskandar Muda.

"Dengan catatan Pak Narko mengatakan bahwa ketika nanti mengirim senjata ke Jakarta, tolong dilaporkan ke Kasdam Iskandar Muda Brigjen Daniel agar mendapat surat pengantar," ujar Radjasa.


Kejanggalan Menurut Radjasa

Radjasa menilai ada kejanggalan. Dia mengatakan bahwa senjata M16A1 dikirim pada 15 Mei lalu dari Aceh ke Jakarta pukul 16.30 WIB. Pengiriman juga menyertakan surat pengantar dari Brigjen TNI purn Sunari selaku Kepala BIN daerah Aceh.

Pengiriman senjata juga menggunakan standar resmi Garuda Indonesia. Tidak pula ditutupi oleh benda apapun sebagaimana penyelundupan senjata pada umumnya.
 
"Namun, setiba di Bandara Soekarno-Hatta, muncul persoalan, karena surat pengantar tersebut diakui oleh Pak Sunari palsu. Kemudian, pengirim yang membawa senjata itu dari Kodam menyatakan tidak pernah membawa senjata tersebut," ucap Radjasa.

Senjata yang ditemukan polisi di Bandara Soekarno-Hata, kata Radjasa, juga bukan seperti yang diketahuinya. Dia menegaskan bahwa Soenarko tidak pernah memerintahkan untuk mengubah M16A1 menjadi M4 seperti yang ditunjukkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.


Senjata M16A1 yang dimiliki Kodam I Iskandar Muda hanya dimodifikasi sedikit di bagian popor, penutup laras dan ditambah teropong bidik. Teropong yang dimaksud bukan untuk sniper, melainkan hanya untuk pertempuran jarak dekat.

"Yang jelas Pak Narko tidak pernah mengubah senjata itu menjadi M4. Enggak pernah ada. ini jelas bahwa Pak Narko tidak pernah memiliki senjata itu seperti yang dikatakan Pak Wiranto, Pak Moeldoko dan Pak Tito," kata Radjasa.

Kejanggalan lain yang diucapkan Radjasa soal pengiriman itu sendiri. Radjasa menegaskan bahwa Soenarko sudah memerintahkan kepada dirinya dan Heriansyah untuk mengirim senjata dari Aceh ke Jakarta sejak beberapa tahun yang lalu.

"Senjata yang akan dikirim ke Jakarta oleh Pak Narko itu bukan rencana yang muncul jelang 22 Mei. Itu sudah satu atau dua tahun yang lalu. Memang Pak Narko ingin mengirim senjata itu ke Jakarta. senjata tersebut dikatakan ilegal dan disebut senjata selundupan berawal dari adanya pengiriman yang tiba-tiba jadi aneh," kata Radjasa.

"Jadi bukan rencana yang tiba-tiba. dan saya saksinya karena saya diperintahkan untuk mengirim,"lanjutnya.

[Gambas:Video CNN] (bmw/DAL)