Muslim di Pesantren Mahfilud Dluror Jember Lebaran Hari Ini

CNN Indonesia | Selasa, 04/06/2019 11:08 WIB
Muslim di Pesantren Mahfilud Dluror Jember Lebaran Hari Ini Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas).
Jakarta, CNN Indonesia -- Umat muslim di Pondok Pesantren Mahfilud Dluror di Desa Suger Kidul, Kabupaten Jember, Jawa Timur, merayakan lebaran hari ini, Selasa (4/6). Mereka pun telah menunaikan salat Id 1440 Hijriah.

"Alhamdulillah, kami sudah menjalankan ibadah puasa selama 30 hari dan melaksanakan salat Id lebih awal dari penetapan pemerintah, karena kami berpuasa lebih awal," ujar Pengasuh Pesantren Mahfilud Dluror KH Ali Wafa, seperti dilansir Antara.

Umat yang menunaikan salat Id di lingkungan Pesantren Mahfilud Dluror tidak hanya warga Kabupaten Jember, namun sebagian warga Kabupaten Bondowoso karena lokasi pesantren tersebut merupakan daerah perbatasan antara Jember dan Bondowoso.

"Meski kami merayakan lebaran hari ini, kami selalu mengimbau kepada santri dan warga di lingkungan pesantren untuk tetap menghormati umat muslim yang masih menjalankan ibadah puasa," imbuhnya.


Jemaah Pesantren Mahfilud Dluror, baik santri maupun masyarakat, yang berada di sekitar pondok pesantren melaksanakan salat tarawih pada Sabtu (4/5) malam dan makan sahur pada Ahad (5/5) dini hari, sehingga melaksanakan puasa lebih awal dari penetapan pemerintah yang menentukan awal ramadan.

"Penentuan awal puasa di pesantren kami berdasarkan kitab Nushatul Majaalis wa Muntahobul Nafaais dan metode itu diterapkan sejak tahun 1826, sehingga tidak menggunakan metode hisab dan rukyat," katanya.

Ia menjelaskan penetapan awal puasa tersebut berdasarkan keyakinan yang menggunakan acuan sistem khumasi (dari bahasa Arab artinya lima/khomsatun), yang berdasarkan pada kitab Nushatul Majaalis, karangan Syeh Abdurrohman As Shufuri As Syafi'i.

"Sistem penghitungan khumasi, yakni penentuan awal puasa tahun ini bisa ditentukan dengan cara menghitung lima hari dari awal puasa tahun sebelumnya, yakni pada Selasa, sehingga lima hari berikutnya yakni pada Ahad sebagai awal puasa tahun ini," jelasnya.
[Gambas:Video CNN]
Ali Wafa mengatakan tidak ada paksaan untuk mengikuti hasil ijtihad di pesantren tersebut dan masyarakat bebas memilih untuk mengikuti penetapan 1 Syawal 1440 Hijriah sesuai penetapan pemerintah, Muhammadiyah atau ikut metode yang dijalankan pesantren yang sudah berjalan ratusan tahun lamanya.

"Meskipun berbeda dengan pemerintah, warga dan alumni pesantren sangat menghargai perbedaan yang ada dan tetap hidup rukun dengan umat muslim di sekitarnya," katanya.

Pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan 1 Syawal 1440 Hijriah jatuh pada 5 Juni 2019 dan penetapan tersebut dilakukan setelah Kementerian Agama menggelar sidang isbat pada Senin (3/6) malam, di Kementerian Agama, Jakarta.


(Antara/bir)