Mengenal Lika-liku di Balik Penentuan Hilal 1 Syawal

Galih Gumelar | CNN Indonesia
Selasa, 04 Jun 2019 07:53 WIB
Hilal merupakan unsur penting di dalam kalender Islam dan menjadi patokan untuk menentukan datangnya bulan baru termasuk 1 Syawal atau hari raya Idul Fitri. Aktivitas pemantauan hilal di Masjid Al-Musari’in, Kembangan, Jakarta Barat. Masjid ini merupakan satu dari empat titik pemantauan hilal di DKI Jakarta, Senin (3/6). (CNN Indonesia/Galih Gumelar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menjelang akhir bulan puasa Ramadan, di petang hari umat muslim Indonesia acap kali terpaku pada layar televisi, menunggu pengumuman Menteri Agama tentang 1 Syawal, atau bertepatan dengan hari raya idul fitri.

Pengumuman itu tentu tidak didasarkan pada keputusan yang asal-asalan. Tapi harus taat kepada hasil sidang isbat yang juga didasarkan pada pemantauan hilal di beberapa titik seluruh Indonesia.

Tak ketinggalan, ahli hilal juga harus disumpah oleh perwakilan dari Pengadilan Agama demi memastikan hasil tersebut valid.


"Hilal adalah sesuatu yang memang wajib, jadi melaksanakannya harus dilakukan dengan penuh ketelitian," ujar Mawardi, pengurus Masjid Masjid Al-Musari'in yang berlokasi di Besmol, Kembangan, Jakarta Barat, kepada CNNIndonesia.com, Senin (3/6).

Masjid ini merupakan satu dari empat titik pemantauan hilal (rukyatul hilal) yang berlokasi di DKI Jakarta dan sudah menjadi rukyatul hilal sejak dekade 1960-an silam. Tak heran, pengurus masjid sudah khatam mengenai seluk beluk hilal dan penggunaannya.


Hilal sendiri merupakan unsur penting di dalam kalender Islam. Sejatinya, hilal adalah bulan sabit kecil yang terlihat tepat setelah matahari terbenam. Jika bulan sabit sudah terlihat, meski pun tipis, maka sudah dipastikan penanggalan baru akan terjadi setelahnya.

Penggunaan hilal sejatinya mengacu pada hukum tertinggi Islam, yakni kitab suci Al-Quran. Di dalam Surat Yunus ayat 5, tercantum bahwa Tuhan menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya agar umat mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.

Dasarnya sudah jelas, umat Islam harus berpatokan pada pergerakan dua benda tata surya ini demi memastikan pergantian antar hari.

Khusus awal Ramadan dan penentuan Idul Fitri, Mawardi mengatakan perhitungan hilal harus mengacu pada hadits Bukhari dan Muslim yang berbunyi 'Berpuasalah kalian pada saat kalian telah melihatnya (bulan), dan berbukalah kalian juga di saat telah melihatnya (hilal bulan Syawal) Dan apabila tertutup mendung bagi kalian maka genapkanlah bulan Sya'ban menjadi 30 hari'.

Maka dari itu, hilal merupakan patokan yang wajib untuk menentukan hari raya idul fitri.

"Jadi tidak ada alasan bagi umat Islam untuk tidak memperhatikan hilal di akhir bulan Ramadan. Karena ini perintah Rasulullah, maka itu tentu sudah harus dijalankan," kata Mawardi.


Hanya saja, pemantauan hilal tak selamanya mudah. Kadang, hilal susah terlihat lantaran cuacanya sedang buruk. Terkadang pula, hilal susah untuk ditembus karena berada dekat dengan matahari. Namun, apapun alasannya, hilal harus wajib dipantau karena menyangkut amal ibadah umat Islam.

Apalagi, kemunculan batang hilal kadang bisa memakan waktu yang lama. Menurut pengalaman Mawardi, hilal bisa saja terlihat lima menit setelah matahari terbenam. Namun di kesempatan lain, ada kalanya hilal baru muncul 30 menit setelah matahari terbenam.

Ini, lanjut Mawardi, ada kaitannya dengan sudut dan ketinggian bulan. Jika sudut elongasi antara matahari dan bulan mencapai tujuh derajat, ada kemungkinan hilal akan terbit 20 menit setelah matahari terbenam.

Namun, jika sudut elongasi hanya terbilang 1 derajat, maka ada kemungkinan hilal akan muncul empat menit setelah matahari terbenam.

"Terkadang masyarakat itu tidak sabaran, bahkan masih jam 17.00 WIB pun sudah menanyakan kapan hilal sudah bisa terlihat. Padahal, itu membutuhkan waktu kesabaran yang cukup lama," jelas dia.


Menurut dia, hilal seharusnya bisa dilihat dengan mata telanjang atau menggunakan bantuan penglihatan seperti teropong. Ia mencontohkan rukyatul hilal di masjidnya beberapa tahun lalu yang dengan menggunakan mata telanjang bisa melihat hilal.

Namun, pengamatan mata saja tak cukup. Ahli hilal tentu juga harus paham mengenai ilmu falak, yakni ilmu astronomi Islam serta ilmu hisab yang merupakan perhitungan matematis untuk menentukan posisi bulan dalam sudut tertentu. Belajar dua ilmu ini, lanjut dia, memang bukan perkara yang mudah.

Namun, ilmu falak dan ilmu hisab sangat berguna untuk kehidupan ibadah sehari-hari.

"Selain untuk menentukan awal Ramadan dan Idul Fitri, ilmu dalam memantau hilal juga berguna untuk menentukan jadwal salat. Dan ilmu ini memang sudah diajarkan di tahun-tahun awal pesantren," kata Mawardi.

Setelah hilal diukur dari segala sisi, maka ahli hilal menyimpulkan pemantauan. Hasil tersebut kemudian akan disampaikan ke Kementerian Agama di dalam sidang isbat.

[Gambas:Video CNN] (vws/vws)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER