Pantauan CNNIndonesia.com di lokasi, kericuhan yang terjadi di luar ruang sidang PN Surabaya itu melibatkan massa ormas Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dan Front Pembela Islam (FPI). Mereka diketahui memantau jalannya persidangan di ruang tunggu PN Surabaya.
Mulanya situasi itu terjadi bersamaan ketika kuasa hukum terdakwa, Ahmad Khozinudin, mencecar salah satu saksi, Ma'ruf Syah, dengan pertanyaan terkait kapasitas akun Generasi Muda NU di dalam ruang sidang. Merasa tak terima, massa di luar ruang pun mulai meracau teriakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sugi, keluar saja, tidak usah sidang!," teriak salah satu Banser menantang.
Tak lama, petugas kepolisian yang berjaga langsung melakukan pengamanan dan memisahkan kedua massa yang terlibat adu mulut dan saling dorong.
"Sudah jangan berteriak, ayo kamu (Banser) mundur. Kamu (FPI) juga sama mundur," kata salah satu petugas melerai.
Namun situasi tak jua dingin, massa yang terbilang banyak malah makin berteriak kalimat selawat dan takbir bersahutan. Aksi saling dorong pun terulang.
Beruntung, salah satu anggota Banser kemudian menenangkan massa agar tak terprovokasi. Ia meminta kelompoknya untuk diam dan saling menjaga kondusivitas jalannya sidang. Ia juga meminta para massa untuk mundur.
"Satu komando, Anak Muda NU dengarkan. Kita hormati pengadilan, hormati aparat hukum. Mulutnya ditutup selawatan di dalam hati," ucap salah satu anggota Banser tersebut mencoba mendinginkan suasana.
Untuk mencegah terjadinya kericuhan susulan, sejumlah aparat kepolisian pun berjaga di antara massa Banser dan FPI. Sementara itu, sidang Gus Nur dengan agenda pemeriksaan saksi masih terus berlangsung.