"Kalau itu masalah yang biasa-biasa saja harus saling menolong, tapi ini, kan masalah politik, ini berat saya. Politik ya. Bukan saya tidak..." ujar Ryamizard di Kantor PBNU, Jakarta, Jumat (14/6).
Ryamizard mengaku sejauh ini dirinya masih berpikir apakah menerima menjadi penjamin bagi Kivlan atau tidak. Langkah itu berdasarkan hasil konsultasi dirinya dengan bagian hukum Kementerian Pertahanan usai menerima surat yang dikirimkan Kivlan kepada dirinya beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika Kivlan mendapat perlakukan yang sama dengan penjahat pada umumnya, ia khawatir akan menimbulkan polemik baru.
"Jadi selesaikan dengan prosedur. Saya setuju prosedur apa dan kenapa, tapi asal hormati karena dia tentara bintang dua. Kalau dia diperlakukan tidak baik kan nanti yang lain goyang, bahaya," ujar Ryamizard.
"Tidak," ujarnya.
Lebih dari itu, mantan KSAD ini menyampaikan selalu membantu prajuritnya yang mengalami persoalan. Bahkan, ia mengklaim sampai melanggar aturan saat memberikan bantuan.
"Tapi ini masalah politik, rada mikir saya disampaikan bapak pikir dulu. Jadi saya mikir dulu nih," ujar Ryamizard. (jps/wis)