MK Tegaskan Perolehan Suara dari Hitung Manual, Bukan Situng

CNN Indonesia | Kamis, 20/06/2019 19:44 WIB
MK Tegaskan Perolehan Suara dari Hitung Manual, Bukan Situng Majelis Hakim MK dalam sidang PHPU Pilpres 2019. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat dalam sidang lanjutan PHPU Pilpres 2019 menyatakan bahwa hasil penghitungan suara Pemilu 2019 yang resmi berasal dari rekapitulasi suara secara manual dan berjenjang yang dilaksanakan dari tingkat TPS hingga nasional.

Hal itu ia katakan untuk merespon tim hukum Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang meminta audit forensik terhadap sistem informasi perhitungan suara (Situng) milik KPU pada sidang lanjutan sidang PHPU Pilpres 2019 di MK, Kamis (20/6).

Arief menyatakan berdasarkan undang-undang yang berlaku, Situng KPU tak dijadikan sebagai mekanisme resmi untuk menetapkan perolehan suara Pemilu 2019.


"Kita harus ingat bahwa untuk menetapkan perolehan suara yang benar itu bukan dari Situng. UU jelas mengatakan hasil Situng bukanlah hasil resmi. Hasil resmi adalah hasil penghitungan suara manual yang dilakukan secara berjenjang," ujar Arief di sidang lanjutan MK.


Melihat hal itu, Arief mengingatkan agar pihak Prabowo-Sandiaga mampu beradu data terkait perhitungan suara secara manual dan berjenjang ketimbang mempersoalkan Situng.

"Situng bukan untuk menentukan perolehan suara yang benar. Jadi yang dipakai adalah penghitungan suara secara manual," kata dia.

Lebih lanjut, Arief sependapat dengan pernyataan Ketua KPU Arief Budiman dalam persidangan yang menyebut bahwa Situng baru diterapkan pertama di Indonesia.

Ia pun menilai Situng hanya diterapkan untuk memberikan transparansi dan informasi kepada masyarakat terkait perolehan suara di Pemilu 2019.

"Sehingga dalam persidangan persidangan praktek di Pilkada kita selalu cek C1 pleno yang berhologram KPU. Kalau pemohon punya apakah data itu resmi atau tidak?" kata dia. (rzr/osc)