Ia menjelaskan sistematis adalah ketika kecurangan dilakukan dengan rencana matang dan rapih. Sementara terstruktur berbicara soal rantai komando dalam kecurangan.
"Kecurangan itu pasti by intention, tidak mungkin karena kealpaan. Sehingga niat memang harus dibuktikan. Lalu terstruktur dan sistematis ini yang kemudian menimbulkan dampak masif," ucap Edward dalam sidang di Gedung MK, Jakarta, Jumat Jumat (21/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau sangat luas itu berarti kalau kita mau pakai metode kuantitatif, 50 persen plus satu. Kalau ada 800 ribu TPS, (harus) ada 400.001 TPS yang kira-kira begitu (TSM), kalau pakai kuantitatif," kata dia.
Ia menyebut setiap pemilih harus ditanya apakah mereka memilih karena terpengaruh kecurangan-kecurangan yang didalilkan.
"Makanya pembuktiannya bukan abal-abal, sangat rumit," Edward.
"Kalau dalam konteks bupati tentu sudah dapat dipastikan karena memenuhi unsur terstruktur dan sistematis di tempat pemilihan tersebut," katanya.
Namun, kata Heru, dalam konteks Pilpres, satu wilayah, bahkan satu Kabupaten tidak memenuhi representasi.
"Permohonan yang seandainya terbukti, dan masih hanya terjadi di satu Kabupaten, itu tidak dapat dikategorikan sebagai kategori TSM yang memengaruhi hasil akhir, sehingga endingnya tentu ditolak," katanya.
[Gambas:Video CNN] (dhf/ugo)