Cerita Nestapa Para Pelarian Perang di Trotoar Kebon Sirih

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Jumat, 05/07/2019 09:11 WIB
Cerita Nestapa Para Pelarian Perang di Trotoar Kebon Sirih Para pencari suaka dari berbagai negara berdikusi dengan petugas UNHCR di Jl Kebon Sirih. (CNNIndonesia/Bintoro Agung)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mata Abdul Samad, pencari suaka asal Afghanistan, tampak kuyu setelah bertemu perwakilan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani pengungsi UNHCR.

Ia kecewa karena bukan solusi yang didapat. Abdul dan rekan-rekan pencari suaka lainnya diminta meninggalkan tenda yang dibuat seadanya di depan Menara Ravindo, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, dan kembali ke Rumah Detensi Imigrasi DKI Jakarta, Kalideres, Jakarta Barat.

"Setelah konseling ini, tolong kembali ke Kalideres," kata perwakilan UNHCR yang dibantu penerjemah, Kamis (4/7).


Abdul mengaku sudah enam tahun bertahan di Indonesia dan berharap UNHCR dapat memberikan bantuan primer seperti makan, minum, dan tempat tinggal.

"Saya kecewa," kata Abdul Samad dengan bahasa Inggris seadanya.

Para pencari suaka itu menempati trotoar dan halte-halte di sekita Jl Kebon Sirih.Para pencari suaka itu menempati trotoar dan halte-halte di sekitar Jl Kebon Sirih sambil berdemo ke kantor UNHCR. ((CNNIndonesia/Bintoro Agung))
Sudah dua pekan ini Abdul Samad bermukim di depan menara Ravindo, tempat UNHCR berkantor, dengan mendirikan tenda yang terbuat dari terpal. Sendirian, ia menghadapi terik matahari dan hujan di langit Jakarta.

Ia meninggalkan tempat tinggalnya di utara Afghanistan yang dilanda perang tak berkesudahan. Abdul Samad pun berpisah dengan keluarganya yang kini berada di Iran.

Kisah pelarian Abdul Samad dimulai saat minggat dari negaranya ke India. Berikutnya ia terbang ke Malaysia menggunakan pesawat. Baru dari sana dia menyeberang ke Indonesia menggunakan kapal.


Dengan kondisi serba tidak punya, Abdul Samad mengaku menyambung hidup dari sumbangan orang-orang yang berlalu-lalang saja. Ia sendiri masih bingung sampai berapa lama akan tinggal di Indonesia.

"Tapi saya akan bertahan di sini," tegasnya.

Kisah serupa juga dialami Abdul Mayit, pencari suaka asal Sudan yang menetap sementara di depan menara Ravindo. Abdul sendiri datang ke Indonesia bersama istri dan seorang putranya.

Saat ditemui, ia dan keluarga kecilnya itu hendak menyantap sebungkus nasi yang dibeli dari warung terdekat.

Para pencari suaka juga mendirikan banyak tenda darurat di sekitar Rudenim Kalideres.Para pencari suaka juga mendirikan banyak tenda darurat di sekitar Rudenim Kalideres. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
"Kami butuh makan, tempat tinggal, dan kesehatan. Saya pribadi tidak masalah [dengan kondisi saat ini], tapi lihatlah istri dan anak saya. Mereka sangat membutuhkannya," ucap Abdul berkali-kali.

Abdul dan keluarga juga baru beberapa pekan bermukim di Kebon Sirih. Sebelumnya mereka berada di Rumah Detensi Imigrasi di Kalideres bersama pencari suaka lain yang mengadu nasib di Indonesia.

Keluarga ini juga mengungsi akibat perang yang berkecamuk di Darfur, Sudan, sejak awal 2018. Mereka berhasil lari ke Indonesia lewat Jeddah, Arab Saudi, menggunakan pesawat terbang.

"Saya tidak tahu bakal berapa lama di sini tapi ada sekitar 500 orang dari Sudan seperti saya," imbuhnya.

Perang menjadi sebab para pencari suaka yang berada di Indonesia. Total ada 14.000 pengungsi terdaftar di Indonesia. Mereka pada umumnya berasal dari Sudan, Myanmar, Somalia, dan yang terbanyak adalah Afghanistan.

Biasanya pencari di sana sadar bahwa tinggal di Indonesia nyaris mustahil karena pemerintah belum meratifikasi Konvensi 1951 tentang Pengungsi. Kendati demikian, Indonesia kerap jadi pilihan bagi pencari suaka sebagai tempat transit sebelum ke negara tujuan. Itu sebabnya mereka kerap menyambangi kantor UNHCR untuk meminta kepastian.

Pada 2017, puluhan pengungsi asa­l Afghanistan juga sudah me­nggelar aksi demo di ­Gedung UNHCR.Pada 2017, puluhan pengungsi asa­l Afghanistan juga sudah me­nggelar aksi demo di ­Gedung UNHCR. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Para pencari suaka bertahan dengan menggelar tenda di atas trotoar Jalan Kebon Sirih, khususnya di depan menara Ravindo dan depan Masjid Ar-Rayyan. Beberapa kali petugas kelurahan dan kantor imigrasi mendatangi mereka untuk melakukan pendataan. Beberapa keluhan juga dialamatkan terhadap pencari suaka ini karena dianggap mengganggu pemandangan.

"Kalau warga sih enggak ada masalah karena sudah mengerti. Cuma karena saking banyaknya mereka tidur menggelandang, pasang tenda, jadi kurang enak pemandangannya. Ada laporan-laporan dari instansi terkait," kata Lurah Kebon Sirih, Indarto.

Indarto membenarkan bahwa ada kemungkinan para pencari suaka di depan kantor UNHCR akan dibawa kembali ke Kalideres. Meski demikian, masih ada opsi lain yang dapat mereka ambil selain mengembalikannya ke Kalideres.

"Yang jelas jangan demo di depan gedung. Besok akan kita rapatkan lagi dengan Satpol PP," pungkasnya.

Pihak UNHCR sendiri belum memberikan keterangan resmi soal para pencari suaka ini.

[Gambas:Video CNN] (arh)