Ia kecewa karena bukan solusi yang didapat. Abdul dan rekan-rekan pencari suaka lainnya diminta meninggalkan tenda yang dibuat seadanya di depan Menara Ravindo, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, dan kembali ke Rumah Detensi Imigrasi DKI Jakarta, Kalideres, Jakarta Barat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kecewa," kata Abdul Samad dengan bahasa Inggris seadanya.
Para pencari suaka itu menempati trotoar dan halte-halte di sekitar Jl Kebon Sirih sambil berdemo ke kantor UNHCR. ((CNNIndonesia/Bintoro Agung)) |
Ia meninggalkan tempat tinggalnya di utara Afghanistan yang dilanda perang tak berkesudahan. Abdul Samad pun berpisah dengan keluarganya yang kini berada di Iran.
Kisah pelarian Abdul Samad dimulai saat minggat dari negaranya ke India. Berikutnya ia terbang ke Malaysia menggunakan pesawat. Baru dari sana dia menyeberang ke Indonesia menggunakan kapal.
Dengan kondisi serba tidak punya, Abdul Samad mengaku menyambung hidup dari sumbangan orang-orang yang berlalu-lalang saja. Ia sendiri masih bingung sampai berapa lama akan tinggal di Indonesia.
"Tapi saya akan bertahan di sini," tegasnya.
Kisah serupa juga dialami Abdul Mayit, pencari suaka asal Sudan yang menetap sementara di depan menara Ravindo. Abdul sendiri datang ke Indonesia bersama istri dan seorang putranya.
Saat ditemui, ia dan keluarga kecilnya itu hendak menyantap sebungkus nasi yang dibeli dari warung terdekat.
Para pencari suaka juga mendirikan banyak tenda darurat di sekitar Rudenim Kalideres. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Abdul dan keluarga juga baru beberapa pekan bermukim di Kebon Sirih. Sebelumnya mereka berada di Rumah Detensi Imigrasi di Kalideres bersama pencari suaka lain yang mengadu nasib di Indonesia.
Keluarga ini juga mengungsi akibat perang yang berkecamuk di Darfur, Sudan, sejak awal 2018. Mereka berhasil lari ke Indonesia lewat Jeddah, Arab Saudi, menggunakan pesawat terbang.
Perang menjadi sebab para pencari suaka yang berada di Indonesia. Total ada 14.000 pengungsi terdaftar di Indonesia. Mereka pada umumnya berasal dari Sudan, Myanmar, Somalia, dan yang terbanyak adalah Afghanistan.
Biasanya pencari di sana sadar bahwa tinggal di Indonesia nyaris mustahil karena pemerintah belum meratifikasi Konvensi 1951 tentang Pengungsi. Kendati demikian, Indonesia kerap jadi pilihan bagi pencari suaka sebagai tempat transit sebelum ke negara tujuan. Itu sebabnya mereka kerap menyambangi kantor UNHCR untuk meminta kepastian.
Pada 2017, puluhan pengungsi asal Afghanistan juga sudah menggelar aksi demo di Gedung UNHCR. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
"Kalau warga sih enggak ada masalah karena sudah mengerti. Cuma karena saking banyaknya mereka tidur menggelandang, pasang tenda, jadi kurang enak pemandangannya. Ada laporan-laporan dari instansi terkait," kata Lurah Kebon Sirih, Indarto.
Indarto membenarkan bahwa ada kemungkinan para pencari suaka di depan kantor UNHCR akan dibawa kembali ke Kalideres. Meski demikian, masih ada opsi lain yang dapat mereka ambil selain mengembalikannya ke Kalideres.
Pihak UNHCR sendiri belum memberikan keterangan resmi soal para pencari suaka ini.
[Gambas:Video CNN] (arh)
Para pencari suaka itu menempati trotoar dan halte-halte di sekitar Jl Kebon Sirih sambil berdemo ke kantor UNHCR. (
Para pencari suaka juga mendirikan banyak tenda darurat di sekitar Rudenim Kalideres. (
Pada 2017, puluhan pengungsi asal Afghanistan juga sudah menggelar aksi demo di Gedung UNHCR. (