"Sebagai kader Gerindra, saya terusik oleh komentar-komentar kader Demokrat, seperti tidak punya etika sebagai sesama partai pendukung 02. Hentikan statement dan tudingan spekulasi kepada Gerindra dan Pak Prabowo," ucap Mulyadi melalui keterangan tertulis, Rabu (10/7).
Mulyadi tidak menyebut secara rinci kader partai mercy yang dimaksud. Meski begitu, dia menilai Demokrat seharusnya berterima kasih kepada Ketua Umum Gerindra yang juga mantan capres Prabowo Subianto. Pula, kepada partai koalisi pengusung Prabowo-Sandi di Pilpres 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengingatkan bahwa Demokrat adalah partai terakhir yang bergabung dalam koalisi pengusung Prabowo-Sandi. Sebelumnya, Gerindra, PAN, PKS, dan Berkarya sudah berada dalam koalisi terlebih dahulu.
"Harusnya Demokrat berterimakasih Pada Pak Prabowo, malah saya aneh dengan cuitan nyinyir kader Demokrat," kata Mulyadi.
Pasal 235 ayat 5 Undang-undang nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (Pemilu) menyebutkan menyatakan, "dalam hal partai politik atau Gabungan Partai Politik yang memenuhi syarat mengajukan Pasangan Calon tidak mengajukan bakal Pasangan Calon, partai politik bersangkutan dikenai sanksi tidak mengikuti pemilu berikutnya"
"Jadi berterimakasihlah pada Pak Prabowo dan koalisi 02 ," tutur Mulyadi.
Mulyadi mengklaim kader Gerindra selama ini diam. Tidak ada yang memberi komentar pedas kepada ketua umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kali ini, Mulyadi mengaku angkat suara karena ingin mengingatkan kader Demokrat.
"Supaya kita saling menghormati dan hentikan sikap nyinyir tak berdasar," ucap Mulyadi.
[Gambas:Video CNN] (ugo)