"Dan juga kepala daerah atau pejabat yang dipilih oleh rakyat agar tidak melakukan korupsi. Apalagi setelah selesai menyelesaikan hukuman, Hak politiknya dicabut untuk waktu tertentu," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, Senin (15/7).
KPK, kata Febri, tentunya berharap agar hukuman tambahan pencabutan hak politik dapat konsisten diterapkan, terutama untuk politikus yang menduduki jabatan publik. Febri menjelaskan, seorang politikus pilihan rakyat yang melakukan korupsi telah mencederai kepercayaan masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Salah satu poin yang juga penting adalah dikabulkannya pencabutan Hak Politik terdakwa. Meskipun memang dari Tuntutan kami lima tahun, baru dikabulkan selama tiga tahun," ucap Febri.
Juru Bicara KPK, Febri Diansyah. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
"Mencabut hak terdakwa untuk dipilih sebagai pejabat publik selama tiga tahun, terhitung sejak terdakwa selesai menjalani masa hukuman," kata Ketua Majelis Hakim, Antonius Widijantono dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Semarang, Senin (15/7).
Vonis pencabutan hak politik ini lebih ringan dua tahun dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Taufik Kurniawan sebelumnya dituntut pencabutan hak memilih dan dipilih dalam politik selama lima tahun.
(sah/ain)
Juru Bicara KPK, Febri Diansyah. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)