Tuntutan itu dilakukan dengan aksi teatrikal di dekat Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (15/7). Koalisi terdiri dari elemen Indonesia Corruption Watch (ICW), KontraS, Amnesty dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Polisi tidur adalah sebagai cerminan bahwa ketika TGPF ini selesai dan tidak mengumumkan, kami pesimis terhadap kerja yang dilakukan Kepolisian. Karena seharusnya, selama dua tahun kasus Novel ditangani, seharusnya sudah membuahkan hasil menemukan titik terang yaitu tersangka," ujarnya, ditemui di lokasi.
Tim gabungan kasus teror terhadap penyidik KPK Novel Baswedan segera mengungkap temuannya. (CNNIndonesia/Gloria Safira Taylor) |
"Kalau kita bandingkan dengan kasus Pulomas yang hanya 19 jam kepolisian dapat menangkap kenapa dalam kasus ini kepolisian sangat lambat menangkapnya," tuturnya.
Jika kasus ini tidak segera diungkap, Wana menyebut ini akan jadi preseden buruk bagi institusi kepolisian.
Sebelumnya, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen M Iqbal pun menyatakan terdapat temuan menarik tim pakar bentukan Polri dalam kasus Novel tersebut.
Namun, Kepolisian belum mengungkap hasilnya dan berencana akan menggelar konferensi pers terkait hasil temuan tim ini pada Rabu (17/7).
Foto: CNN Indonesia/Fajrian |
Tim gabungan ini dibentuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian lewat Surat Keputusan nomor: Sgas/ 3/I/HUK.6.6/2019. Tim yang beranggotakan 65 orang memiliki masa tugas selama enam bulan dan sudah habis pada 7 Juli 2019.
Wajah Novel disiram air keras oleh orang tak dikenal di lingkungan rumahnya usai melaksanakan salat subuh, Kelapa Gading, Jakarta Utara, 11 April 2017.
[Gambas:Video CNN] (gst/arh)
Tim gabungan kasus teror terhadap penyidik KPK Novel Baswedan segera mengungkap temuannya. (
Foto: CNN Indonesia/Fajrian