Aksi 'Polisi Tidur', LSM Pesimistis pada Polri di Kasus Novel

CNN Indonesia | Selasa, 16/07/2019 01:13 WIB
Aksi 'Polisi Tidur', LSM Pesimistis pada Polri di Kasus Novel Aksi damai koalisi LSM di dekat Mabes Polri terkait kasus Novel Baswedan. (CNN Indonesia/Gloria Safira Taylor)
Jakarta, CNN Indonesia -- Koalisi Masyarakat Antikorupsi mengaku pesimistis dengan kerja kepolisian dalam mengungkap pelaku penyiraman air keras kepada penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Tuntutan itu dilakukan dengan aksi teatrikal di dekat Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (15/7). Koalisi terdiri dari elemen Indonesia Corruption Watch (ICW), KontraS, Amnesty dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta.

Para peserta aksi mulanya berdiri di depan tiruan dari alat pembatas kecepatan di jalanan, polisi tidur. Mereka pun mengangkat foto Novel, tuntutan-tuntutan perlindungan terhadap aktivis HAM, serta lembaran kertas yang berisi fakta-fakta kasus Novel.


Anggota Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan ICW Wana Alamsyah mengatakan aksi teatrikal yang menampilkan sosok polisi tidur itu sebagai cerminan tim gabungan dan Polri yang tidak juga mengumumkan siapa pelaku penyiraman Novel. Padahal kasus itu sudah dua tahun berlalu.

"Polisi tidur adalah sebagai cerminan bahwa ketika TGPF ini selesai dan tidak mengumumkan, kami pesimis terhadap kerja yang dilakukan Kepolisian. Karena seharusnya, selama dua tahun kasus Novel ditangani, seharusnya sudah membuahkan hasil menemukan titik terang yaitu tersangka," ujarnya, ditemui di lokasi.

Tim gabungan kasus teror terhadap penyidik KPK Novel Baswedan segera mengungkap temuannya. Tim gabungan kasus teror terhadap penyidik KPK Novel Baswedan segera mengungkap temuannya. (CNNIndonesia/Gloria Safira Taylor)
Wana pun membandingkan pengungkapan kasus Novel dengan pembunuhan satu keluarga di Pulomas, Jakarta Timur. Pasalnya, polisi dapat dengan segera menangkap pelaku pembunuhan satu keluarga tersebut dengan modal rekaman CCTV peristiwa.

"Kalau kita bandingkan dengan kasus Pulomas yang hanya 19 jam kepolisian dapat menangkap kenapa dalam kasus ini kepolisian sangat lambat menangkapnya," tuturnya.

Jika kasus ini tidak segera diungkap, Wana menyebut ini akan jadi preseden buruk bagi institusi kepolisian.

Pihak koalisi juga menyoroti soal perlindungan terhadap pekerja HAM dan antikorupsi yang makin memprihatinkan. Berdasarkan data yang mereka miliki, terdapat 91 tindakan intimidasi terhadap aktivis korupsi.

Sebelumnya, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen M Iqbal pun menyatakan terdapat temuan menarik tim pakar bentukan Polri dalam kasus Novel tersebut.

Namun, Kepolisian belum mengungkap hasilnya dan berencana akan menggelar konferensi pers terkait hasil temuan tim ini pada Rabu (17/7).

Aksi 'Polisi Tidur', LSM Pesimistis pada Polri di Kasus NovelFoto: CNN Indonesia/Fajrian
Pada kesempatan itu, salah satu anggota tim pakar Hendardi menduga kasus penyiraman air keras Novel berkaitan dengan motif politik. Selain itu anggota lainnya, Hermawan, mengatakan ada jenderal bintang tiga yang diperiksa.

Tim gabungan ini dibentuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian lewat Surat Keputusan nomor: Sgas/ 3/I/HUK.6.6/2019. Tim yang beranggotakan 65 orang memiliki masa tugas selama enam bulan dan sudah habis pada 7 Juli 2019.

Wajah Novel disiram air keras oleh orang tak dikenal di lingkungan rumahnya usai melaksanakan salat subuh, Kelapa Gading, Jakarta Utara, 11 April 2017.

[Gambas:Video CNN] (gst/arh)