Manajer Kajian Eksekutif Nasional Walhi, Boy Even Sembiring, mengatakan pernyataan Jokowi yang mengundang investasi seluas-luasnya dalam rangka membuka lapangan pekerjaan bersifat kontradiktif antara keberpihakan pada kemanusiaan, lingkungan hidup, dan investasi.
"Menguatnya narasi mengundang investasi yang seluas-luasnya dalam rangka membuka lapangan pekerjaan mempertegas skenario bermuka dua yang dimainkan selama hampir lima tahun ini," kata Boy dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta Selatan, Selasa (16/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Genjot investasi seperti itu tidak lebih dilihat hanya sebagai trickle down effect," ungkapnya.
Oleh karena itu, katanya, Walhi menyayangkan Jokowi yang tidak memahami secara utuh persoalan perubahan iklim yang tengah menjadi prioritas sejumlah pemimpin dunia saat ini. Malah, sambungnya, menjadikan konteks global sebagai acuan untuk mengubah strategi pencapaian visi Indonesia.
Presiden terpilih Joko Widodo menyampaikan pidato pada Visi Indonesia di Sentul International Convention Center, Bogor, 14 Juli 2019. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A) |
"(Seharusnya) pembangunan ekonomi memerhatikan daya dukung lingkungan hidup agar pembangunan menjadi berkelanjutan," kata Boy.
Sebelumnya, Jokowi menyampaikan beberapa poin di pidato pertama sebagai presiden terpilih dengan tema 'Visi Indonesia' di Sentul International Convention Center (SICC), Minggu (14/7).
Jokowi menekankan soal pembangunan infrastruktur dan pembangunan SDM seperti vocational school dan membangun Manajemen Talenta Indonesia.
Selain itu, pidato yang juga dihadiri calon wakil presiden terpilih Ma'ruf Amin dan partai politik pendukung tersebut menegaskan soal investasi seluas-luasnya, membuka lapangan kerja dan melakukan reformasi birokrasi.
Lihat juga:Angin Lalu Poros Maritim di Pidato Jokowi |
[Gambas:Video CNN] (mts/kid)
