Polri Sebut Pola Rekrutmen Teroris JI Lebih 'Silent' dari JAD

CNN Indonesia | Rabu, 17/07/2019 03:17 WIB
Polri Sebut Pola Rekrutmen Teroris JI Lebih 'Silent' dari JAD Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Polri membeberkan sistem perekrutan yang dilakukan oleh kelompok teroris Jamaah Islamiyah (JI) berbeda dengan kelompok Jamaah Ansarut Daulah (JAD).  Kelompok JI disebut tidak terang-terangan dalam merekrut anggotanya alias lebih diam-diam ketimbang kelompok JAD.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo mengatakan pasukan yang diinginkan JI bukan secara kuantitas melainkan secara kualitas. Karena kualitas pasukan yang paling dibutuhkan untuk memperkuat kelompok itu.

"Dia (JI) justru tidak mengeksploitasi diri seperti JAD. Dia lebih soft, lebih silent. Cuma kelompok-kelompok yang direkrut sama dia itu cukup efektif dalam rangka penguatan organisasi mereka," ujar Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (16/7).


Selain itu kelompok JI memiliki media sendiri untuk melakukan propaganda dalam menyebarkan paham yang dianut mereka.

"Dia punya media sendiri. Ada beberapa media-media tidak terdaftar di Dewan Pers itu dia gunakan untuk propaganda dan menyebarkan narasi-narasi," tuturnya.

Sebelumnya, Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menangkap lima orang terduga teroris jaringan JI. Kelimanya adalah PW, MY, BS, A, dan BT.

PW diketahui merupakan pimpinan dari JI. Ia juga diketahui terlibat aktif dalam aksi terorisme di Indonesia. Antara lain bom Bali, rangkaian bom Natal, bom di depan Kedutaan Besar Australia, serta terlibat dalam peristiwa Poso pada tahun 2005-2007.

Ia disebut membantu kelompok Poso dengan dukungan logistik dan operasional.

Polisi menduga kelompok JI tersebut saat ini memang tengah berfokus untuk membangun kekuatan ekonomi. Setelah kekuatan ekonomi itu terbangun dengan baik, mereka bakal mewujudkan tujuan akhirnya yakni pembentukan negara khilafah.

Penyidik kepolisian masih terus mendalami soal sumber pendanaan kelompok ini. Termasuk, soal usaha kebun sawit di wilayah Sumatera dan Kalimantan yang diduga jadi salah satu ladang penghasilan mereka.

[Gambas:Video CNN] (gst/osc)