Kronologi Konflik Lahan Berujung Pengeroyokan Aparat di Jambi

CNN Indonesia | Jumat, 19/07/2019 18:22 WIB
Kronologi Konflik Lahan Berujung Pengeroyokan Aparat di Jambi Ilustrasi. (Foto: Istockphoto/deepblue4you)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sengketa lahan milik PT Wira Karya Sakti (WKS) di Jambi, yang berujung pengeroyokan terhadap aparat TNI dan Polri ternyata sudah berlangsung cukup lama. Sengketa itu, menurut versi polisi, telah terjadi sejak 2018.

Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Divisi Humas Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra mengatakan tanah milik WKS yang disengketakan merupakan hutan tanaman industri dengan jenis tanaman pohon akasia.

Sengketa, menurut Asep, karena ada seorang bernama M dengan istrinya memanfaatkan sebagian besar dari 200 ribu hektare tanah tersebut. Pasangan itu menyewakan beberapa titik lahan kepada masyarakat sekitar.


"M menginisiasi untuk menyewakan beberapa titik di lahan itu dengan sejumlah uang kepada warga, klaimnya sudah hampir seribu orang yang menguasai di daerah itu," ujar Asep di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (19/7).

Pendekatan-pendekatan oleh lembaga terkait telah dilakukan. M dan istrinya diberitahu bahwa perbuatan mereka melanggar hukum. Kata Asep, pendekatan itu tak berbuah hasil.

Pertemuan dengan Serikat Mandiri Batanghari (SMB) juga telah dilakukan berkali-kali tapi tidak menemukan titik terang.

SMB dalam sengketa ini ikut terlibat karena puluhan orang diduga anggota SMB terlibat penganiayaan terhadap aparat TNI dan Polri.

Upaya penyelesaian sengketa lahan yang jalan di tempat itu, memicu M dan sejumlah anggota SMB membakar lahan tersebut. Lahan terbakar sejak tanggal 12 Juli. 

Asep mengatakan pembakaran dilakukan untuk mengganti pohon akasia yang sudah ditanam oleh PT WKS dengan tanaman lain yang dapat mereka tanam.

"M dan pengikutnya yang menyewa itu, membakar lahan di sana untuk mereka mengelola ulang tapi dengan tanaman biasa, singkong, dan sebagainya," tuturnya.

Pada Kamis (18/7), petugas pemadam kebakaran hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang didampingi satuan tugas dari TNI Polri berusaha memadamkan api yang semakin membesar.

Upaya pemadaman itu justru dibalas dengan serangan dari sekitar 200 orang diduga anggota SMB.

Para penyerang merangsek hingga ke mess yang ada di sana. Sedikitnya tiga anggota TNI dan dua anggota Polri mengalami luka berat dan ringan dalam insiden ini.

"Ketika (TNI-Polri) mendampingi itu masyarakat yang menguasai itu marah, tidak suka. Itulah terjadi penyerangan terhadap petugas dan perusakan mess-mess di sana," kata Asep.

Sekitar 400 petugas polisi menyisir daerah sekitar kejadian usai aksi penyerangan. Aparat berhasil 49 orang. M dan istrinya diduga sebagai provokator.

[Gambas:Video CNN] (gst/wis)