Kekeringan, Desa-desa di Temanggung Minta Bantuan Air Tangki

CNN Indonesia | Senin, 22/07/2019 11:22 WIB
Kekeringan, Desa-desa di Temanggung Minta Bantuan Air Tangki Ilustrasi kekeringan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak lima desa di lima kecamatan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah mengalami kekeringan dan membutuhkan bantuan air bersih di musim kemarau ini.

Plt Kepala BPBD Kabupaten Temanggung Gito Walngadi mengatakan lima desa yang mengalami kekeringan itu adalah Gentan (Kecamatan Kranggan), Drono (Kecamatan Tembarak), Jetis (Kecamatan Selopampang), Dampit (Kecamatan Tlogomulyo), dan Kalimanggis (Kecamatan Kaloran).

Ia mengatakan sumber air di sejumlah daerah tersebut sudah surut dan mengering sehingga membutuhkan bantuan air bersih.


"Sebelumnya kami menerima surat permohonan bantuan air bersih dari lima kecamatan tersebut dan setelah kami lakukan pengecekan memang wilayah tersebut memerlukan droping air bersih," kata Gito di Temanggung seperti dikutip dari Antara, Senin (22/7).


Gito menuturkan setiap hari BPBD Kabupaten Temanggung mendistribusikan air bersih ke daerah kekeringan sebanyak enam tangki.

Lebih lanjut, dia menerangkan potensi daerah rawan kekeringan di Kabupaten Temanggung terdapat di 12 kecamatan yang terdiri atas 40 desa dan 129 dusun atau titik.

Oleh karena itu, Gito mengimbau agar para kepala desa di daerah rawan kekurangan air bersih untuk aktif menyampaikan perkembangan di daerahnya.

"Segera minta bantuan air bersih jika memang sangat membutuhkan," katanya.

Sementara itu di wilayah terpisah, BPBD DI Yogyakarta mencatat kebutuhan dropping air di sejumlah wilayah yang menghadapi kekeringan saat musim kemarau mengalami peningkatan selama Juli dibanding kebutuhan bulan sebelumnya.

"Di beberapa wilayah, ada kecenderungan kenaikan permintaan dropping air bersih. Sampai pertengahan Juli, jumlah kebutuhan air bersih sudah lebih dari 50 persen dibanding bulan sebelumnya," kata Kepala Pelaksanana BPBD DIY Biwara Yuswantana di Yogyakarta, Sabtu (20/7).

Berdasarkan data BPBD DIY, kecamatan yang membutuhkan suplai air paling banyak adalah Kecamatan Girisubo di Kabupaten Gunungkidul. Pada Juni, kecamatan tersebut membutuhkan 200 tangki air dan hingga pertengahan Juli sudah membutuhkan 124 tangki air. Kenaikan permintaan kebutuhan air bersih juga meningkat di kecamatan lain di Kabupaten Gunungkidul, seperti di Kecamatan Rongkop dari 104 tangki air pada Juni menjadi 60 tangki air hingga pertengahan Juli.

"Bahkan, Kecamatan Purwosari yang pada bulan lalu tidak membutuhkan bantuan air bersih kini sudah meminta bantuan air bersih sebanyak 20 tangki," kata Biwara.

Biwara menerangkan bantuan air bersih yang didistribusikan ke berbagai kecamatan yang membutuhkan tersebut sepenuhnya masih dapat ditangani oleh pemerintah daerah setempat.

"Kondisi musim kemarau pada tahun ini diperkirakan lebih kering dibanding tahun lalu meskipun tidak sekering musim kemarau pada 2015. Tetapi, perlu ada langkah antisipasi yang dilakukan agar kebutuhan air bersih bagi masyarakat tetap terpenuhi," katanya.

Sumber Air Surut, 5 Desa di 5 Kecamatan Temenggung KekeringanSeorang warga minum air dari ember saat pengedropan air bersih karena kekeringan yang terjadi di Desa Jatimulya, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, 26 Juni 2019. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

Dua Hari Hujan di Tasik, Kekeringan Belum Teratasi

Sementara itu di Jawa Barat, BPBD Kota Tasikmalaya menyatakan hujan yang mengguyur wilayah itu selama dua hari beruntun belum berdampak mengatasi kekeringan akibat kemarau yang selama ini telah menyebabkan kekeringan pada air sumur dan lahan pertanian.

"Hujan cukup lama dan rata, tapi tidak besar, jadi tidak ada pengaruh signifikan," kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya Ucu Anwar, Minggu.

Hujan mengguyur wilayah Kota Tasikmalaya sejak Jumat (19/7), selanjutnya hujan kembali turun dengan intensitas tidak terlalu besar cukup membasahi tanah yang sebelumnya kering.

Hujan tersebut, lanjut dia, belum mengembalikan kondisi air sumur yang menjadi sumber air warga, untuk itu BPBD tetap mendistribusikan air bersih untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga warga.

"Sampai sekarang masih terus mendistribusikan air bersih," katanya.

Sebelumnya pada Rabu (17/7), BPBD Jabar menyatakan 13 kabupaten/kota di provinsi tersebut terdampak kekeringan akibat musim kemarau tahun ini. Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jabar Budi Budiman Wahyu mengatakan 13 kabupaten/kota itu adalah Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Subang, dan Kota Cirebon.

Kemudian Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Ciamis, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Garut dan Kabupaten Majalengka.

Sumber Air Surut, 5 Desa di 5 Kecamatan Temenggung KekeringanWarga menggembala kambing di lahan kering di Kampung Cimanggu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, 2 Juli 2019. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

Budi mengatakan akibat kekeringan musim kemarau juga menyebabkan 14.404 hektare lahan pertanian di Jabar terdampak kekeringan.

Selain itu, lanjut Budi, sebanyak 14.795 kepala keluarga (KK) di Provinsi Jabar terdampak kekurangan air bersih akibat musim kemarau tahun ini. Dia mengatakan BPBD Jabar  elah berkoordinasi dengan BPBD tingkat kabupaten/kota untuk menyalurkan bantuan 386.600 liter air bersih kepada warga yang kekurangan air bersih.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil masih mengkaji terkait rencana penetapan status siaga kekeringan seperti yang diusulkan BPBD Jawa Barat.

"Saya masih mengkaji karena solusi-solusi sudah dilakukan. Dengan para bupati wali kota sudah menggilir (irigasi). Hitungannya harian. Sehari di kelompok tani ini, sehari di itu," kata Ridwan.

(Antara/kid)