Densus 88 Gandeng Kedubes 6 Negara Usut Aliran Dana Teroris

CNN Indonesia | Kamis, 25/07/2019 03:43 WIB
Densus 88 Gandeng Kedubes 6 Negara Usut Aliran Dana Teroris Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Densus 88 Antiteror Polri bakal menggandeng kedutaan besar (kedubes) enam negara untuk mengusut aliran dana teroris yang masuk ke Indonesia.

Hal ini tak lepas dari terduga teroris di sejumlah negara yang diketahui mengirimkan dana ke Indonesia untuk aksi terorisme, yakni Trinidad Tobago, Maladewa, Venezuela, Jerman, Filipina, dan Malaysia.

"Densus 88 sudah menyampaikan para perwakilan Kedubes yang ada di Indonesia, ada Liaison Officer yang diundang untuk mengomunikasikan terkait jaringan terorisme," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Rabu (24/7).


Dedi menjelaskan, rencananya Densus 88 akan melakukan pertemuan dengan pihak-pihak terkait itu pada pekan ini.

Selain menggandeng kedubes Densus 88 rencananya juga bakal berkolaborasi dengan Pusat Pelaporam dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dalam pengusutan aliran dana teroris ke Indonesia.

"Nanti saling tukar informasi apa yang kita dapat, termasuk aliran dana ini dengan PPATK," ujar Dedi.

Sebelumnya, polisi membeberkan aliran dana ke kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Indonesia yang diperoleh dari Saefulah alias Daniel alias Chaniago, seorang penjaga perpustakaan di Ponpes Ibnu Mas'ud, Bogor, Jawa Barat.

Saat ini Saefullah diyakini berada di Khurasan, Afghanistan dan tengah dalam pengejaran Densus 88 Antiteror.

Saefullah diketahui menerima duit dari sejumlah orang di beberapa negara. Duit-duit itu kemudian disalurkan ke JAD untuk kegiatan terorisme lewat Novendri yang ditangkap beberapa waktu lalu.

"Saudara Saefulah ini menerima beberapa aliran dana, ini aliran dana dari negara Trinidad Tobago ada tujuh kali, dari Maldives ada satu kali, Venezuela satu kali, Jerman dua kali dan Malaysia sekali," tutur Dedi di Mabes Polri, Selasa (23/7).

Dedi menyebut Saefulah telah menerima aliran dana untuk aksi teror itu sejak Maret 2016 hingga September 2017 melalui Western Union. Total dana yang diterima mencapai Rp413.169.857.

[Gambas:Video CNN] (dis)