Senyum Baiq Nuril Merekah saat DPR Ketok Palu Setujui Amnesti

CNN Indonesia | Kamis, 25/07/2019 14:15 WIB
Senyum Baiq Nuril Merekah saat DPR Ketok Palu Setujui Amnesti Baiq Nuril Maqnun didampingi putra dan kuasa hukumnya di Gedung DPR, Jakarta, 25 Juli 2019. (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sudut-sudut bibir Baiq Nuril Maknun terangkat ketika seruan 'setuju' menggema di ruang sidang paripurna DPR RI, Jakarta, Kamis (25/7). Amnesti yang dimohonkannya sebagai terpidana kasus pelanggaran Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) itu disetujui anggota DPR agar diberikan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

Baiq Nuril sebelumnya menjadi terpidana pelanggaran UU ITE terkait percakapan mantan atasannya di SMAN 7 Mataram Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menjurus ke arah pelecehan seksual.



Wajahnya seolah menampilkan suasana hati yang lega setelah harapannya agar terbebas dari kasus hukum yang melilitnya semakin mendekati garis finis. Kini, Baiq tinggal menunggu Jokowi menerbitkan Keputusan Presiden terkait pemberian amnesti untuknya.
 Baiq pun tak kuasa menahan tangis yang jatuh dari matanya. Sambil memeluk anaknya Rafi, ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu perjuangannya hingga saat ini. 


"Terima kasih kepada Presiden, terima kasih kepada anggota DPR, terima kasih Rieke Diah Pitaloka, terima kasih kepada semua kuasa hukum, terima kepada semua lembaga dan inatansi terkait, terima kasih kepada rekan media yang sampai saat ini terus mendukung," kata Baiq Nuril usai sidang paripurna di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Kamis (25/7).


Eks pegawai di SMAN 7 Mataram itu mengaku tidak bisa membalas langsung atas kebaikan yang diterimanya. Namun, ia berjanji mendoakan agar Tuhan membalas semua kebaikan pihak-pihak yang disebutkannya tersebut.

"Saya tidak bisa membalas kebaikan mereka semua,  mudah-mudahan Allah yang bisa membalas," kata Baiq Nuril.


Baiq Nuril pun berharap di masa mendatang tak ada kasus serupa yang dialami dirinya itu menimpa perempuan-perempuan lain. Baiq pun berpesan agar perempuan Indonesia yang telah menjadi korban pelecehan seksual harus berani melawan dan bersuara: 


"Harus berani, jangan kasih kesempatan, harus berani melapor dan harus berani bersuara," katanya.



Dalam pertimbangan yang disampaikan ke sidang paripurna anggota dewan tersebut, Wakil Ketua Komisi III DPR Erma Suryani Ranik mengatakan pihaknya mempertimbangkan aspek keadilan untuk menyepakati amnesti bagi Baiq Nuril. Dalam laporan hasil kerja Komisi III DPR menimbang Baiq Nuril bukanlah seorang pelaku, melainkan seorang korban demi melindungi diri dari kekerasan.

"Saudara Baiq Nuril adalah korban kekerasan verbal, dan yang dilakikan Baiq menurut Komisi III menilai ini adalah upaya melindungi diri dari kekerasan verbal dan seksual," kata Erma saat membacakan laporannya di sidang paripurna

Perkara ini bermula ketika Baiq Nuril dituding menyebarkan rekaman percakapan telepon dengan atasannya, Muslim, yang diduga melakukan pelecehan. Merasa dipermalukan, Muslim pun melaporkan perkara itu ke polisi.

Baiq Nuril sebelumnya dinyatakan tidak bersalah melakukan pelanggaran UU ITE dalam putusan pengadilan tingkat pertama. Namun, putusan di tingkat kasasi MA pada 26 September 2018 menjatuhkan vonis kepada Baiq Nuril selama enam bulan penjara dan denda Rp500 juta subsider tiga bulan kurungan.

Sebelum amnesti untuk Baiq Nuril disetujui DPR, perempuan asal NTB itu sempat mengajukan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung, namun langkah hukumnya ditolak majelis hakim agung.


[Gambas:Video CNN] (mts/wis)