Diketahui, Tim Asistensi Hukum kala itu dibentuk untuk memantau ucapan serta tindakan tokoh yang berpotensi mengganggu ketertiban umum.
"Kita sudah mendaftarkan sengketa TUN terhadap Kemenkopolhukam atas diterbitkannya Kepmen Nomor 38 tahun 2019 tentang tim asistensi hukum," ujar pengacara publik YLBHI Shaleh Al Ghifari saat ditemui di Pengadilan TUN Jakarta, Jalan Pemuda, Senin (5/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Shaleh menegaskan bahwa keputusan menteri tersebut bertentangan dengan asas legalitas dan kepastian hukum. Hal itu, berpotensi terjadi suatu maladministrasi.
Penggugat juga meminta TUN Jakarta memerintahkan Menkopolhukam Wiranto untuk mencabut keputusannya sebagaimana tertera dalam Kepmenkopolhukam Nomor 38 Tahun 2019.
Diberitakan sebelumnya, Tim Asistensi Hukum dibentuk melalui penerbitan Keputusan Menteri Koordinator Polhukam Wiranto Nomor 38 Tahun 2019 pada tanggal 8 Mei 2019. Tim terdiri dari 24 anggota yang berasal dari pakar hukum, staf Kemenkopolhukam hingga anggota Polri.
Kala itu, Tim dibentuk ketika begitu banyak kritik serta pernyataan negatif yang ditujukan kepada pemerintah khususnya Presiden Jokowi.
Dalam Surat Keputusan (SK) diketahui bahwa tugas Tim Asistensi Hukum Kemenko Polhukam meliputi tiga hal.
Tugas kedua, memberikan rekomendasi kepada aparat penegak hukum untuk menindaklanjuti kajian hukum sebagaimana hasil kajian dan asistensi hukum sesuai kewenangan.
Ketiga, Tim Asistensi Hukum Kemenko Polhukam dapat melibatkan para tokoh dan pakar hukum serta organisasi profesi hukum untuk ikut serta berpartisipasi dalam memberikan saran dan masukan. Tim terdiri dari 24 anggota yang merupakan pakar hukum, staf Kemenkopolhukam hingga anggota Polri.
Terkait masa tugas, dalam surat keputusan disebutkan bahwa Tim Asistensi Hukum Kemenko Pohukam bertugas sejak 8 Mei hingga 31 Oktober 2019.
[Gambas:Video CNN] (bmw/ryn/sur)