Sepekan Ganjil Genap, Rangking Jakarta di Airvisual Menurun

CNN Indonesia | Rabu, 21/08/2019 18:27 WIB
Sepekan Ganjil Genap, Rangking Jakarta di Airvisual Menurun Suasana gedung perkantoran yang diselimuti asap putih di Jakarta, 10 Agustus 2019. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemprov DKI Jakarta telah memberlakukan kebijakan perluasan ganjil genap dalam durasi sepekan lebih. Setidaknya ada dua alasan utama pemberlakuan ganjil genap itu yakni untuk mengurangi kemacetan dan menekan angka polusi udara di Jakarta.

Satu alat ukur yang disoroti masyarakat ialah airvisual.com. Beberapa pekan sebelum penerapan ganjil genap, Jakarta sempat ditempatkan sebagai kota dengan peringkat satu dengan udara terburuk.

Namun hari ini, Rabu (21/8), ranking Jakarta menurun. Pagi tadi, Jakarta terpantau menempati peringkat 7 sebagai kota dengan polusi udara terburuk.


Merujuk pada alat ukur itu, berdasarkan indeks AQI tercatat Jakarta mendapat angka 124 setelah Wuhan (China), Chongqing (China), Hanoi (Vietnam), Dubai (UEA), Lahore (Pakistan), serta Dhaka (Bangladesh).

Kendati menurun, Airvisual masih menempatkan Jakarta berstatus udara yang tidak sehat bagi sebagian kelompok sensitif.

Sementara itu, ditinjau dari histori data per minggu, angka polusi udara di Jakarta masih naik turun.

Dari rentan tanggal 23 Juli 2019 hingga 21 Agustus 2019, polusi udara tertinggi berada di angka 166 yakni pada tanggal 28 Juli 2019.

Setelah pemberlakuan ganjil genap, polusi tertinggi dalam sepekan terakhir adalah 158 pada Jumat, 16 Agustus 2019.

Sistem ganjil genap sendiri masih tahap sosialisasi yang digelar per tanggal 9 Agustus hingga 8 September mendatang.

Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan DKI Jakarta Andono Warih menyatakan kadar polusi udara di ibu kota RI itu menurun 18,9% setelah penerapan ganjil genap.

Dari data Pemantauan PM2,5 atau pemantauan udara yang diberikan Andono, rata-rata polusi udara di Jakarta berada pada nilai 63,29. Setelah seminggu berlalu nilai udara di Jakarta menurun menjadi 51,29. Angka ini diambil dari kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.

"Itu dari hasil alat ukur kita, PM 2,5 itu membaik, artinya konsentrasi partikel di udara lebih kecil setelah ganjil genap," ujar Andono.


[Gambas:Video CNN] (ctr/kid)