Jakarta Hidden Tour, Tur Senyap Panggung Kemiskinan Ibu Kota

CNN Indonesia | Kamis, 22/08/2019 16:54 WIB
Jakarta Hidden Tour menyebut dirinya sebagai cermin, merefleksikan tentang kegagalan pemerintah memberi rasa adil dan memanusiakan warganya. Aktivitas Jakarta Hidden Tour mengunjungi permukiman kumuh Jakarta. (Foto: Jakarta Hidden Tour)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ronny Poluan (59) agak kaget malam itu. Bahunya terangkat, sembari mundur selangkah ketika CNNIndonesia.com menghampirinya di Gereja di Kolase Kanisius, Menteng, Jakarta Pusat, 26 Juli 2019. Ronny tengah menghadiri misa requiem Adolf Heuken, sejarawan asing pengkhatam tempat-tempat bersejarah di Jakarta. Heuken wafat hari itu di usia 90 tahun.

"Gue udah berusaha menghindar dari media selama tiga tahun ini," kata Ronny berbisik.

Ronny Poluan seorang seniman. Lulusan Institut Kesenian Jakarta. Dia adalah otak di balik kegiatan Jakarta Hidden Tour. Mengusung jalan-jalan yang tak biasa, Ronny mengundang turis asing melihat permukiman kumuh ibu kota. Biaya perjalanan dipungut 50 dolar AS. Setengah dari 'donasi' itu dia sumbangkan ke warga-warga yang ia kunjungi. Kegiatannya itu sudah dilakoni sejak 2008.


"Bagi gue persoalan kumuh itu akan terus ada sampai kiamat," kata Ronny yang kemudian mengajak berdiskusi di pelataran warung kopi Taman Ismail Marzuki.

Jakarta Hidden Tour, Tur Senyap ke Panggung Kemiskinan (EBG)Inisiator Jakarta Hidden Tour, Ronny Poluan (kiri). (Dok. Jakarta Hidden Tour)

Ronny mengaku kupingnya sudah tebal. Sejak 11 tahun lalu, Ronny dipandang sebagai provokator. Menjual kemiskinan kepada bangsa asing, pasar utama dia dalam kegiatan Jakarta Hidden Tour. Namun menurutnya, Jakarta Hidden Tour ibarat cermin. Sebuah refleksi kegagalan pemerintah dalam memanusiakan warganya.

"Ketika yang ada di cermin itu jelek, jangan kau hancurkan cermin itu. Yang terjadi dengan permukiman kumuh adalah kegagalan kemanusiaan. Fail of humanity," kata Ronny.
Ronny menerima tudingan sejumlah pihak yang menilainya hanya menjelek-jelekan bangsa. Namun demikian, kata dia, begitulah kondisi sesungguhnya. Warga miskin makin terpinggir dalam derap pembangunan.

"Bilang aja gua jelek, kita jelek, susah amat sih lo. Satu hal. Semua tamu-tamu saya bilang Indonesia so beautiful, even dia poor, they are smiling. Indonesia the friendly people in the world, bagi mereka," kata Ronny.
Jakarta Hidden Tour, Tur Senyap ke Panggung Kemiskinan (EBG)Aktivitas Jakarta Hidden Tour. (Jakarta Hidden Tour)

Ronny mengilas balik kenangan ide tentang tur di slum area bermula pada 2008. Saat itu, di sekitar Kota Tua, Jakarta Barat, dia melihat turis asing tengah bercengkerama dengan warga miskin.

"Itu warga pun diem aja, karena enggak bisa ngomong, Cuma 'hai mister, yes, yes'. Kalau ini diketemuin 'nyala nih'. Coba ah," ujar Ronny.

Dalam kegiatannya, Ronny selalu mengingatkan kepada para tamunya: 'You are not my tourist. You are my partisipant in my development project,' Ronny mengusung tiga program dalam Jakarta Hidden Tour: 3E (Emergency, Education, Empowerment). Pokoknya, kata Ronny, uang donasi yang dia berikan ke kampung kumuh itu dapat berdaya guna sesuai kebutuhan mereka masing-masing.
Ronny sempat kesal. Tak lama setelah mengunjungi beberapa titik kumuh di Jakarta, daerah tersebut 'disikat' pemerintah. Padahal menurutnya, semua manusia yang tinggal di Jakarta, baik pendatang maupun bukan, berhak hidup dengan layak. Tanpa rasa takut, terintimidasi, apalagi dipandang sebagai 'sampah'.

"Saya sempat merenung. Upset, kecewa berat untuk tidak mengatakan marah melihat kondisi orang miskin itu. Lalu suatu saat saya menangis. Saya pikir ini tidak adil, ada ketidakadilan," ujar dia.
"Lihat di bawah, pemulung dengan pendapatan Rp20 ribu sehari. Sementara kalau lu pergi ke plaza Indonesia judulnya Plaza Indonesia, padahal it's not Indonesian stuff inside there. LouisVitton, Fendi, Christian Louboutin, US$200-2.000 for a pair. Adil?" ujarnya.

Ronny juga menyesalkan, penataan permukiman kumuh, khususnya di ibu kota, berjalan tanpa koordinasi. Semua sektor terkait berjalan masing-masing. Tak seirama.

"Si RT bikin sendiri, si DPRD bikin sendiri, dinas sosial bikin sendiri, BPS bikin sendiri. Jadi kita bertanya, yang bapak asli mana? mereka punya kepentingan masing-masing supaya sukses. Kita sama-sama tahu itu," sindirnya.

Ronny tetap melakoni kegiatannya di Jakarta Hidden Tour sampai saat ini. Tanpa sorot media, apalagi ulasan pemberitaan. Jika ditengok dari laman kampanyenya, realjakarta.blogspot.com, tiap hari ada saja tamu asing yang ingin mengintip sudut Jakarta yang 'tersembunyi' melalui Jakarta Hidden tour.

"Kenapa harus dihentikan. Apa yang salah di saya? saya menjawab itu, saya hanya sebagai cermin saja," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN] (ain/ain)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK