Analisis

Penumpang Gelap, Kambing Hitam Gerindra Demi Jatah Kursi

CNN Indonesia | Senin, 12/08/2019 17:10 WIB
Penumpang Gelap, Kambing Hitam Gerindra Demi Jatah Kursi Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subainto (kiri) dan Presiden Jokowi (kanan), dalam pertemuan perdana pasca-Pilpres 2019.. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Partai Gerindra dinilai sedang bersih-bersih demi memuluskan jalan meraih kursi di kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menyudutkan 'penumpang gelap' di Pilpres 2019.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengungkap ada 'penumpang gelap' dalam barisan pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019.

Dasco menyebut 'penumpang gelap' memanfaatkan Prabowo untuk kepentingan mereka. Misalnya seusai putusan MK dan penetapan kemenangan Jokowi-Ma'ruf, kelompok itu menghasut Prabowo untuk mengorbankan kaum ibu dan ulama dalam massa aksi.


Ia enggan merinci siapa 'penumpang gelap' yang dimaksud. Namun, Dasco mengatakan kelompok ini sering membisiki Prabowo soal keputusan selama pilpres.

Meski awalnya begitu percaya, kata dia, Prabowo sadar dengan status 'penumpang gelap' saat kelompok itu menyarankan mengorbankan ulama dan emak-emak untuk memancing amarah rakyat.

Waketum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menyebut ada kelompok yang meminta Prabowo mengorbankan kaum emak-emak dan ulama demi memicu amarah rakyat.Waketum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menyebut ada kelompok yang meminta Prabowo mengorbankan kaum emak-emak dan ulama demi memicu amarah rakyat. (CNN Indonesia/Patricia Diah Ayu Saraswati)
"Soal penumpang gelap, bukan karena kita singkirkan. Prabowo jenderal perang, dia bilang sama kita 'Kalau diadu terus, terus dikorbankan, saya akan ambil tindakan'. Enggak terduga dia banting setir dan orang-orang itu gigit jari," kata Dasco di Hotel Ashley, Jakarta Pusat, Jumat (9/8).

Pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin mengatakan pernyataan Dasco itu tak terlepas dari manuver Gerindra merapat ke pemerintahan Jokowi.

Gerindra, kata dia, sudah tidak lagi sejalan dengan kelompok tersebut. Ujang menyebut agenda Gerindra saat ini adalah masuk barisan pemerintahan periode kedua Jokowi.

"Bisa saja selama ini di kubu Gerindra dan bersama-sama. Ketika berbalik haluan dan sebagainya, hari ini sudah berbeda pandangan. Bisa jadi ini strategi memuluskan langkah-langkah yang dilakukan Gerindra terkait rekonsiliasi," ucap Ujang saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (12/8).

Ujang berujar ada kemungkinan sebagian elite Gerindra memang tak cocok dengan kelompok 'penumpang gelap' sejak pilpres. Namun, kelompok ini memiliki basis massa yang cukup banyak untuk modal Prabowo bertarung di pilpres.

Momen pascapilpres ini disebut Ujang merupakan momentum para elite Gerindra untuk memisahkan diri dari 'penumpang gelap'. Apalagi angin rekonsiliasi sedang berhembus.

Kerusuhan 22 Mei yang bertujuan menentang hasil rekapitulasi KPU memakan banyak korban pendukung Prabowo-Sandiaga.Kerusuhan 22 Mei yang bertujuan menentang hasil rekapitulasi KPU memakan banyak korban luka maupun meninggal. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
"Semua sedang cari kambing hitam, siapapun dicari celah untuk dikambinghitamkan, termasuk 'penumpang gelap'," ucap dia.

Dihubungi terpisah, pengamat komunikasi politik Universitas Bunda Mulia Silvanus Alvin menyampaikan pernyataan Dasco sebagai pembuka dari strategi Gerindra memastikan kursi di pemerintahan Jokowi.

Di momen penentu ini, kata Alvin, Gerindra menyatakan diri pernah disusupi penumpang gelap guna merayu PDIP dan Jokowi.

"Tentunya penumpang gelap ini kubu yang bertolak belakang secara ideologis dari PDIP. Jadi mereka ingin menjauhkan diri [dengan berkata] bahwa, 'Kita sudah tidak berteman dengan penumpang gelap ini. Kita murni ingin bergabung dengan PDIP,'" ucap Alvin saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (12/8).

"Memang momennya adalah masa-masa pencarian, pembagian jatah kabinet. Gerindra bagaimanapun juga merapat ke PDIP karena berusaha mengambil kue, sedikit jatah dari kabinet pemerintahan mendatang," jelasnya.

Alvin menyebut Gerindra seolah-olah menyatakan dirinya sebagai korban atau playing victim. Mereka hendak membersihkan 'dosa-dosa' di Pilpres 2019 agar mulus masuk kabinet.

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Prabowo, saat bertemu di Teuku Umar.Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Prabowo, saat bertemu di rumah Mega, Jl Teuku Umar. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Dia juga mengatakan ini hanya strategi pembuka. Kelak Gerindra akan memainkan isu bahwa selama ini memang seperjuangan dan seideologi dengan PDIP.

"Nanti narasinya akan diungkit pada saat 2009 bahwa Mega dan Prabowo pernah maju bersama, bahwa PDIP dan Gerindra punya sejarah koalisi," Alvin menerangkan.

[Gambas:Video CNN] (dhf/arh)