Tugu Dwitunggal Sukarno dan Mohammad Hatta berdiri kokoh bersama naskah proklamasi. Beberapa pengunjung sibuk mengambil gambar swafoto di balik patung proklamator. Anak-anak kecil bermain bola di pelataran.
Tugu Petir juga masih berdiri tegak. Di tempat itu, Sukarno membacakan teks proklamasi kemerdekaan RI pada 1945. Dahulu, lokasi itu adalah rumah Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur 56, namun kini sudah rata dengan tanah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rekaman suara Bung Karno membacakan teks proklamasi sempat diputar. Setelah acara itu bubar, tak ada lagi kegiatan lainnya. Aktivitas kembali sepi seperti biasanya.
Tugu Petir, lokasi Sukarno membacakan teks proklamasi kemerdekaan RI 1945. (CNN Indonesia/ Aria Ananda) |
"Tadi pagi ramai banget karena ada upacara saja. Sehabis itu enggak ada kegiatan lagi," ujar Entin.
Sepasang muda-mudi bercengkerama di kawasan Tugu Proklamasi. Salah satunya, Adelia (24) yang sengaja datang ke lokasi itu bersama temannya. Rumahnya tak jauh dari tempat bersejarah tersebut.
Sedangkan temannya, Aji (26) baru pertama kali menginjakkan kaki di Tugu Proklamasi. Dia yang tinggal di Bogor, Jawa Barat, memang sejak lama ingin mengunjungi tugu tersebut.
"Saya orangnya suka dengan tempat-tempat bersejarah, apalagi Tugu Proklamasi ini kan dulunya rumah Pak Sukarno yang dijadiin tempat untuk baca naskah Proklamasi," kata Aji.
Pada kesempatan berbeda, Doktor Sejarah Rushdy Hoesein menceritakan bahwa Sukarno sengaja menghancurkan rumahnya itu pada 1964. Menurut Rushdy, pilihan itu tanpa diiringi alasan yang jelas.
Dia enggan berspekulasi lebih dalam, sebab hanya Bung Karno yang mengetahui alasan sebenarnya penghancuran rumah tersebut.
Sementara itu, Sejarawan JJ Rizal mengatakan penghancuran rumah itu sebagai upaya Sukarno melawan feodalisme.
[Gambas:Video CNN] (dni/pmg)
Tugu Petir, lokasi Sukarno membacakan teks proklamasi kemerdekaan RI 1945. (CNN Indonesia/ Aria Ananda)