Gabion Jadi Incaran Swafoto Warga Jakarta di 'Car Free Day'

CNN Indonesia | Minggu, 25/08/2019 13:50 WIB
Gabion Jadi Incaran Swafoto Warga Jakarta di 'Car Free Day' Warga yang menikmati car free day di Bundaran HI menyempatkan diri berfoto dekat gabion (CNN Indonesia/Ciputri Hutabarat)
Jakarta, CNN Indonesia -- Warga yang sedang melintas di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta saat menikmati hari bebas kendaraan bermotor atau car free day menyempatkan diri berfoto di dekat gabion milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Instalasi gabion itu baru dipasang Pemprov untuk menggantikan intalasi Getah Getih yang terbuat dari bambu.

Banyak warga yang terlihat penasaran dengan tumpukan batu dan tanaman atau gabion itu. Mereka melihat dengan jarak yang dekat.

Salah satunya adalah Saras, warga Rawa Jati, Jakarta. Dia penasaran dan ingin memegang langsung gabion milik Pemprov DKI Jakarta tersebut.


"Iya pengen pegang saja gimana gitu. Tahunya ya begini memang batu di atasnya ada pot-pot gitu," kata Saras, di Kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (25/8).

Saras mengaku tahu soal gabion dari pemberitaan di media massa. Dia juga tahu tentang biaya pembuatan gabion yang mencapai Rp150 juta.

Meski banyak pihak yang mengkritik, Saras seolah enggan ikut mempersoalkan langkah Pemprov DKI Jakarta terkait pengadaan gabion tersebut. Dia hanya berharap gabion dapat menyerap polusi di Ibu Kota.

"Saya kurang ngerti soal manfaatnya buat apa ya ada gabion, tapi kalau ada tanaman di atasnya ya bagus lah. Di samping-sampingnya juga banyak tanaman baru," tuturnya.

Tak hanya Saras. Banyak warga lain yang terlihat memegang serta berfoto di dekat gabion. Mereka antre untuk mendapatkan gambar dekat gabion.

Syahrul, warga Tanjung Duren, berfoto dekat gabion bersama temannya. Syahrul mengaku awalnya tak ada rencana untuk berfoto saat menikmati car free day.

Hanya saja, saat melintasi Bundaran HI menggunakan sepeda, dia mendapati banyak orang berkerumun dan berfoto. Setelah melihat gabion dari dekat, Syahrul ikut tertarik untuk berfoto.

"Iseng saja, pas lewat kok orang ramai kebetulan ada ini (Gabion) ya sudah mau foto saja buat pribadi," kata Syahrul di lokasi.

Warga yang tidak peduli dengan pembicaraan di media sosial, tetap ingin berfoto dekat gabionWarga yang tidak peduli dengan pembicaraan di media sosial, tetap ingin berfoto dekat gabion. (CNN Indonesia/Ciputri Hutabarat)
Syahrul yang tahu soal gabion dari pemberitaan di media massa, menilai instalasi itu unik.

"Unik juga ini batuan di atasnya tumbuhan. Saya baru lihat ini sih," lanjut dia.

Senada, Susi dan putrinya, warga Jagakarsa, Jakarta Selatan juga berfoto di gabion. Mulanya, dia tidak ada rencana khusus untuk berfoto di instalasi milik Pemprov DKI Jakarta tersebut.

Namun, saat melintas, putri Susi ingin berfoto bersama di dekat gabion. Susi pun memenuhi keinginan putrinya.

"Iya tadi diminta sama anak saya foto. Saya juga sempat gantian foto tadi," jelas dia.

Susi yang juga penyuka tumbuhan menilai gabion bisa berfungsi menyerap air. Dia menganggap bebatuan itu baik bagi tumbuhan agar bisa tetap hidup.

"Kayaknya di tengah-tengah batu itu ada aliran air ya. Yang bisa terus menyirami supaya subur terus. Tapi ya baguslah ini juga," tutup dia.

Gabion adalah instalasi baru milik Pemprov DKI Jakarta. Gabion dipasang untuk menggantikan instalasi bambu Getah Getih yang telah dibongkar.

Gabion sendiri merupakan susunan batu bronjong yang ditahan dengan rangka besi. Batu yang digunakan terdiri dari berbagai ukuran.

Ada tiga instalasi. Dua diantaranya setinggi kurang lebih 160 meter, dan salah satunya memiliki tinggi sekitar 180 cm.

Di bagian atas gabion terdapat rumput hijau dan bunga bougenville putih dan merah. Berbagai macam tanaman ikut menghiasi sekitar gabion tersebut.

Kepala Dinas Kehutanan DKI Jakarta Suzi Marsitawati mengatakan gabion tersebut menghabiskan biaya sebesar Rp150 juta. Anggaran tersebut diambil dari APBD DKI Jakarta tahun 2019.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono mengkritik gabion yang dipasang Pemprov. Menurutnya, instalasi bebatuan itu tidak memiliki nilai seni dan estetika.

Termutakhir, gabion juga mendapat sorotan lantaran ada terumbu karang yang dipasang. Padahal, terumbu karang dilindungi oleh negara berdasarkan Undang-Undang nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil.

[Gambas:Video CNN] (ctr)