Polisi Tangkap Enam Terduga Teroris Kelompok JAD

CNN Indonesia | Senin, 26/08/2019 17:30 WIB
Polisi Tangkap Enam Terduga Teroris Kelompok JAD ilustrasi. (CNN Indonesia/Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepolisian menangkap enam terduga teroris kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di sejumlah lokasi berbeda dalam waktu tiga hari berturut-turut.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo mengatakan penangkapan ini merupakan tindak lanjut penangkapan beberapa jaringan JAD sebelumnya oleh Detasemen Khusus 88.

"Pengungkapan jaringan teroris JAD di beberapa wilayah, khususnya JAD di Jatim dan Madura. Kegiatan ini menindaklanjuti penangkapan beberapa jaringan JAD sebelumnya," ujar Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (26/8).


Penangkapan pertama dilakukan Kamis (22/8) pada HS di Sampang dan BL di Lamongan, Jatim. Penangkapan selanjutnya dilakukan Jumat (23/8) pada tiga orang yakni KJ, S, dan IPS, di Blitar, Jatim. Kemudian penangkapan kembali dilakukan Sabtu (24/8) pada YT alias Nukud di Magetan, Jatim.

Dedi menjelaskan HS merupakan amir atau pemimpin JAD dan Koordinator Bidang Hisbah. Sementara BL berperan sebagai amir JAD Lamongan.

Sedangkan KJ, S, dan IPS adalah anggota kelompok JAD Blitar pimpinan Lutfi alias Goper yang telah ditangkap pada 3 Agustus 2018. Sementara YT alias Nukud merupakan jaringan Al-Isbaqiah.

Dedi mengatakan para teroris ini biasanya memanfaatkan momen kenegaraan untuk melakukan aksi terorisme dengan sasaran utamanya adalah aparat kepolisian.

"Sasaran utama mereka adalah Polri dan memanfaatkan momen kenegaraan," tuturnya.

Dedi menyebut HS dan BL pernah terlibat dalam penyerangan bom di Surabaya pada 2018. Keduanya sempat ikut dalam pertemuan sebelum penyerangan bom tersebut.

"Beberapa orang itu sangat terkait erat dengan bom Surabaya, minimal mengetahui proses perencanaan bom Surabaya, baik yang di tempat ibadah maupun serangan Polrestabes Surabaya," katanya.

Ia menyatakan polisi bakal menyelidiki keterlibatan anggota JAD lainnya karena telah mengikutsertakan keluarga dalam aksi terorisme tersebut.

"Mereka melibatkan keluarga loh ini, bukan suicide bomber atau pengantin aja loh. Jadi keterlibatan kelompok ini akan terus didalami Densus 88," ucapnya.

Dari rekam jejak yang ditelusuri Densus 88, lanjut Dedi, HS sejak lama telah berhubungan dengan sejumlah teroris yang telah ditangkap. Pada 2014, HS terlibat dalam daurah atau kajian di Sengkaling Malang, Jatim bersama Samsul Arifin alias Abu Umar yang telah ditangkap pada 14 Mei 2018 dan Nur Kholis yang ditangkap 17 Mei 2018, serta dimentori Abu Fida yang ditangkap 19 Februari 2018.

Kemudian pada 2015, HS terlibat dalam daurah di Dau Malang, Jatim. Dedi menyebut, HS juga pernah mengikuti daurah di Lamongan bersama Zaenal Anshori yang ditangkap 7 April 2016, Widodo yang ditangkap 14 Mei 2018, dan Sutrisno alias Pak Tris yang ditangkap pada 17 Mei 2018.

Pada tanggal 12 Mei 2018, HS dan BL juga pernah mengikuti pertemuan amir wilayah Jatim di Islamic Center Balung Bendo, Sidoarjo, sehari sebelum kasus bom Surabaya.

"HS juga mengetahui rencana aksi teror JAD Probolinggo untuk menyerang polisi," kata Dedi.

Sementara BL pernah mengikuti pelatihan di Gunung Panderman, Jatim, bersama Abu Fida dan Romly yang ditangkap pada 19 Februari 2016.

"Kita masih terus melakukan preventif strike untuk memitigasi secara maksimal. Sudah mulai beragam nih JAD-nya, ada JAD Jateng, Jatim, Kalbar, Kalsel, Kalteng sudah kita tangkap. Mereka memiliki komunikasi jejaring secara terstruktur," ucapnya.

Dalam penangkapan tersebut, lanjut Dedi, polisi juga menyita sejumlah barang bukti berupa dua buah ponsel Lenovo dan Vivo milik HS, dan barang bukti milik BL di antaranya satu ponsel, satu buku catatan kecil bersampul Doraemon, satu bundel foto copy buku berjudul Silsilah Ilmiah Dalam Penjelasan Masalah-Masalah Manhajiah, dan satu lembar surat.

Sementara dari Nukud polisi menyita barang bukti di antaranya dua kaleng diduga bom rakitan, satu sangkur, satu pistol mainan, dua kotak peluru senapan angin kaliber 4,5, dua petasan, satu batang besi dengan panjang 50 cm, satu borgol, satu buku Baitul Mal, satu lembar kertas tulisan cara merakit bom, dan lima cincin emas serta uang Rp10 juta.

[Gambas:Video CNN] (psp)