Sebelumnya Ridwan Saidi berpendapat Prasasti Kedukan Bukit di Palembang yang selama ini menjadi salah satu bukti keberadaan Kerajaan Sriwijaya ditulis menggunakan bahasa Armenia yang digunakan sebagian ras atau bangsa Arya. Ridwan berujar, kebanyakan peneliti sejarah dan arkeolog salah dan ngelantur memahami aksara dan bahasa dalam prasasti.
Retno membantah, dia menjelaskan bahwa Prasasti Kedukan Bukit ditulis menggunakan aksara atau huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno, bukan Armenia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dulu, kata dia, Kern menduga bahwa Sriwijaya adalah nama raja dan tulisan mengenai hal tersebut diterbitkan pada 1913. Kemudian pada 1918 George Coedes juga menerbitkan tulisan dengan judul "Le Royueme Sriwijaya" yang mengidentifikasi nama Sriwijaya sebagai nama kerajaan.
Lihat juga:Ragam Peninggalan Kerajaan Sriwijaya |
"Masih banyak bukti lain yang mendukung pada abad 7-10 masehi. Di prasasti memang terteranya bukan 'Kerajaan Sriwijaya', tapi 'Kadhatuan'. Rajanya disebut dhatu," ujar dia.
Retno pun berujar agar Ridwan Saidi tak perlu lagi melontarkan pernyataan kontroversial tersebut. Retno menyebut, pada empat tahun lalu, budayawan Betawi tersebut pernah mengeluarkan pernyataan yang sama. Pernyataan Ridwan Saidi berdasarkan penemuan Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia Agus Aris Munandar pada 13 Juli 2013 Saat menemukan sumur di Candi Kedatoan, situs Muara Jambi, provinsi Jambi. Dalam temuan tersebut, Agus mengatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya pernah berpusat di Jambi.
"Dari situ Ridwan Saidi bilang, Sriwijaya tidak pernah ada di Palembang tapi di Jambi. Terus pernyataan itu heboh di seluruh media. Tapi saat komentarnya enggak jelas, tampaknya media tidak tertarik lagi. Nah sekarang bikin onar lagi," kata Retno.
[Gambas:Video CNN] (idz/ain)