Herman mengatakan, Kerajaan Sriwijaya memiliki sejarah panjang dan besar yang sudah dibuktikan oleh para ahli sejarah dan arkeolog. Bukan hanya masyarakat Indonesia yang bangga akan sejarah tersebut, namun sudah diakui oleh masyarakat internasional. Banyak ahli sejarah yang datang langsung ke Palembang untuk belajar mengenai Kerajaan Sriwijaya.
"Enggak semuanya harus kita bahas karena adanya Kerajaan Sriwijaya sudah dibuktikan para ahli, dan itu tidak seketika, tapi melalui penelitian. Jadi tidak bisa dipatahkan hanya oleh pendapat satu orang saja," ujar Herman, Rabu (28/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Herman Deru. ANTARA FOTO/Budi Haryanto |
Senada, Arkeolog dari Balai Arkeologi Sumatera Selatan Retno Purwanti berujar, pernyataan Ridwan Saidi yang menyebutkan Sriwijaya sebagai kerajaan fiktif sangat tidak mendasar karena tidak disertai bukti yang kuat.
Setelah itu, prasasti lainnya yang berhubungan dengan Kerajaan Sriwijaya mulai ditemukan baik yang masih dalam keadaan utuh maupun pecahan-pecahan. Serta arca-arca dan situs-situs yang ditemukan pun telah dibuktikan menggunakan carbon dating atau C-14 dengan skor 7.
Arkelog dari berbagai negara seperti Inggris, Jepang, India, dan SIngapura sempat datang ke Palembang pada 2014 lalu untuk mengikuti seminar internasional membahas Sriwijaya.
Penulis berkebangsaan Jepang Takashi Suzuki bahkan telah dua kali menerbitkan buku nonfiksi tentang kerajaan Sriwijaya. The History of Srivijaya Under The Tributary Trade System of China diterbitkan pada 2012 dan buku kedua The History of Srivijaya Angkor and Champa yang terbit pada 2019.
Diketahui kanal Youtube Macan Idealis mengunggah dua video berjudul Kerajaan Sriwijaya palsu dan fiktif serta hanyalah bajak laut yang beroperasi di wilayah nusantara. Video tersebut diunggah pada Jumat (23/8) serta Minggu (25/8).
Dalam video tersebut, Vasco Ruseimy berbincang bersama Ridwan Saidi mengenai sejarah Kerajaan Sriwijaya yang palsu dan fiktif. Ridwan Saidi pun berujar Kerajaan Sriwijaya sebenarnya hanyalah bajak laut yang beroperasi di perairan nusantara untuk merampok kapal perdagangan pada abad ke-7.
Herman Deru. ANTARA FOTO/Budi Haryanto