Pembunuh Ayah-Anak, Kenalan di Tagged Hingga Bisnis Warteg

CNN Indonesia | Selasa, 03/09/2019 18:20 WIB
Pembunuh Ayah-Anak, Kenalan di Tagged Hingga Bisnis Warteg Polda Metro Jaya menggelar barang bukti dan tersangka kasus pembunuhan ayah dan anak. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tersangka pembunuhan terhadap ayah dan anak, Aulia Kesuma alias AK mengakui motif utama pembunuhan dilatari utang yang melilitnya.

Kepada polisi, AK membeberkan perkenalannya dengan suami hingga bisnis restoran dan warteg yang digelutinya. AK juga mengaku terlilit utang Rp10 miliar dari dua bank berbeda.

"Saya melakukan pembunuhan ini terutama karena masalah utang," kata AK di Mapolda Metro Jaya, Selasa (3/9).

Menurut AK, suaminya yakni Edi Chandra Purnama alias Pupung mengetahui masalah utangnya. Namun, dikatakan AK, suaminya selalu meminta dirinya untuk menyelesaikan masalah utang tersebut.
AK mengungkapkan utang itu muncul pada 2013 atau baru ada setelah dirinya menikah dengan Edi pada 2011 silam. Mulanya, ia meminjam sebesar Rp700 juta di Bank Mandiri.


Utang itu diketahui digunakan untuk membuka usaha restoran yang diminta oleh Edi. Namun, Edi tak bisa mengajukan pinjaman ke bank mana pun lantaran namanya telah di-blacklist oleh bank. Alhasil, AK yang akhirnya mengajukan pinjaman tersebut.

Setelah mendapat dana, mereka membuka usaha restoran tapi tak berjalan lancar. Restoran itu pun bangkrut dan AK mesti membayar semua utang yang dimilikinya.

AK mengaku sempat membuka usaha warteg di kawasan Blok M untuk membantu melunasi utangnya. Namun, ia menyebut tak sekalipun suaminya membantu untuk melunasi utang tersebut.

"Terus setelah itu (pinjaman) naik Rp1,3 miliar di bank Mandiri juga. Setelah itu, tetap tidak bisa bayar pindah lagi ke International Finance dapat Rp2,5 miliar, itu juga habis buat bayar bunganya. Setelah itu pindah ke MNC, setelah ke MNC enggak bisa bayar juga karena kan sudah enggak ada penghasilan," tutur AK.

AK akhirnya kesal lantaran suaminya tak membantu melunasi utang-utang tersebut. Menurut AK, suaminya itu hanya duduk-duduk saja di rumahnya.

Bahkan, menurut AK, selama ini dirinyalah yang bertugas mencari uang karena suaminya tak bisa bekerja. AK menilai selama ini suaminya bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari karena ada aset peninggalan orang tuanya.

"Setiap hari ia duduk manis di rumah. Ia makan, ia pegang handphone, ia jalan-jalan sama teman-temannya," ucap AK.
AK semakin kesal dengan suaminya karena pernah menyebut menyesal menikahinya dan khawatir aset-asetnya disita oleh bank untuk melunasi utang istrinya. AK sendiri bersikukuh utang-utang itu muncul karena keinginan suaminya.

Ia kemudian meminta kepada suaminya menjual dua rumahnya untuk melunasi utang-utang tersebut. Suaminya menolak permintaan AK dengan alasan utang itu bukan atas namanya.

Sejak saat itu, AK mengaku sering terlibat cekcok dengan suaminya. Bahkan, ia mengaku juga mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

"Saya juga sudah bingung, saya juga sudah enggak tahu harus bagaimana lagi, sedangkan beberapa bulan terakhir aja saya bayar bunga bank pakai kartu kredit saya, pakai mobil anak saya yang digadai dan saya pinjam uang sama kakak saya buat bayar bunganya supaya jangan sampai rumah itu digadai," tutur AK.

AK mengungkapkan kenal dengan suaminya dari sebuah aplikasi bernama Tagged. Namun, menurut AK, suaminya tak pernah mengakui bahwa mereka berkenalan lewat aplikasi tersebut. Suaminya selalu bercerita kepada keluarganya bahwa mereka berkenalan saat sedang bekerja.

"Bilang ke keluarganya kalau ketemu saya di kantor, padahal itu benar-benar di Tagged," ujarnya.

Tak hanya itu, suaminya juga mengenalkan dirinya dengan anaknya yakni M Adi Pradana alias Dana. Bahkan, justru anak suaminya yang meminta AK untuk menikah dengan ayahnya. Akhirnya, AK pun luluh dan akhirnya menikah.

"Mungkin tante bukan jodoh ayahmu tapi kamu kalau ada apa-apa hubungi tante, terus kata dia (Dana) enggak bisa, tante harus jadi ibu aku," kata Aulia.
Pada Minggu, 28 Agustus lalu, jasad Dana dan Edi ditemukan dalam kondisi terbakar di dalam sebuah mobil di Sukabumi, Jawa Barat.

Polisi menetapkan empat tersangka yakni AK dan anaknya KV, serta dua eksekutor S dan A. 

Dana dan Edi dibunuh oleh S dan A yang dibayar oleh AK. Setelah dipastikan tewas, jasad ayah dan anak itu dibawa ke Sukabumi dan selanjutnya dibakar di dalam sebuah mobil.

Keempat tersangka itu dijerat dengan dengan pasal 340 KUHP jo Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan Berencana dengan ancaman hukuman mati, dan atau penjara seumur hidup atau penjara minimal dua puluh tahun.

[Gambas:Video CNN] (dis/wis)