Penurunan omset lantaran tak banyak suporter yang datang ke GBK menyaksikan Timnas bertanding. Sejumlah pedagang menengarai suporter tak banyak datang imbas kerusuhan yang pecah saat laga timnas sebelumnya melawan Malaysia di GBK, Kamis (7/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biasanya 50 dus (minuman) lebih kalo lagi pertandingan, kemarin 50. Sekarang 10 aja enggak sampe," tutur Lusi.
Muji yang menjual aksesoris tim nasional Indonesia di sekitar SUGBK ini mengaku pasrah akan hasil penjualannya hari ini.
Pria 61 tahun ini enggan menyebut berapa uang yang berhasil dia kantongi. Kata Muji, pembeli memang tidak terlalu ramai. Namun dia mengaku tetap senang karena masih memiliki usaha untuk berjualan.
"Setahu saya di sini sistem koperasi. Jadi penjual-penjual itu menyetor, barangnya semua dari koperasi," kata Muji.
"Yang ini (aksesoris timnas) bukan, ini jualan saya. Makanya mereka (petugas keamanan) sering bertentangan, saya dari dulu enggak mau," tambahnya sambil memperlihatkan barang yang dijualnya.
Lapak jualan Muji menjajakan aneka aksesoris, mulai dari stiker, pin garuda, hingga syal merah putih. Dia bilang peminatnya tak hanya bergantung jumlah penonton yang hadir. Para pembeli disebutnya ikut bergantung pada hasil pertandingan.
Dagangannya biasa ramai jika timnas menang. Begitupun sebaliknya. Hari ini, Timnas Indonesia takluk tiga gol tanpa balas dari Thailand.
Sepi jumlah suporter Garuda yang menyambangi Gelora Bung Karno hari ini membuat Lusi berharap tak terulang lagi rusuh antar pendukung di stadion. Selain memicu sepi penonton, Lusi mengaku cemas keributan suporter berpengaruh terhadap lokasi pertandingan.
"Kalau pertandingan gini emang saya paling andelin, untungnya banyak dari sini. Biasanya di atas 50 (dus) pasti habis, Sampe gerobak habis juga pernah," ucap Lusi.
[Gambas:Video CNN] (mjo/ara/wis)