5 Pekan Karhutla, 32 Ribu Warga Sumsel Derita ISPA

CNN Indonesia | Kamis, 12/09/2019 08:14 WIB
5 Pekan Karhutla, 32 Ribu Warga Sumsel Derita ISPA Warga memakai masker untuk melindungi diri dari asap karhutla. (ANTARA FOTO/FB Anggoro)
Palembang, CNN Indonesia -- Sedikitnya 32 ribu warga Sumatera Selatan disebut menderita penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sejak kualitas udara memburuk akibat asap yang dihasilkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak lima pekan terakhir.

Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan Sumatera Selatan, total penderita ISPA sejak pekan pertama Agustus hingga pekan pertama September yakni 32.815 penderita. Sebanyak 14.702 atau 44,80 persen merupakan bayi berusia di bawah 5 tahun.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Sumsel Mulyono mengatakan jumlah penderita tersebut masih terus bertambah karena belum semua 17 kabupaten/kota yang ada di Sumsel mengirimkan laporannya.


Dinkes Sumsel sendiri telah menerbitkan surat edaran kepada kabupaten/kota yang terdampak untuk melakukan antisipasi pencegahan ISPA akibat kabut asap selama musim kemarau.

"Dalam surat diinstruksikan agar seluruh dinas kesehatan untuk menyiagakan fasilitas pelayanan kesehatan seperti poskesdes, puskesmas pembantu, puskesmas, dan rumah sakit," kata dia, Rabu (11/9).

Dari laporan 10 daerah, terdapat 5.905 penderita ISPA pada Agustus pekan pertama. Sebanyak 2.780 diantaranya merupakan balita. Jumlah tersebut meningkat pada pekan kedua dengan 6.943 penderita berdasarkan laporan dari 9 daerah. Sebanyak 3.265 diantaranya merupakan balita.

Pada pekan ketiga Agustus, angka ISPA kembali meningkat dengan jumlah penderita 7.266 dari 10 daerah. Sebanyak 3.351 diantaranya merupakan balita. Sedangkan pada pekan keempat Dinkes baru menerima laporan dari 7 daerah dengan jumlah penderita 7.460. Sebanyak 3.118 diantaranya merupakan balita.

September pekan pertama, Dinkes Sumsel menerima laporan dari 5 daerah dengan jumlah penderita ISPA 5.241. Sebanyak 2.188 diantaranya merupakan balita. Palembang menjadi kota tertinggi penderita ISPA dengan 12.254 orang, sebanyak 4.663 diantaranya merupakan balita.

Mulyono berujar balita lebih rentan terkena ISPA karena memiliki ketahanan tubuh yang lebih rendah daripada orang dewasa. Gizi yang diterima balita terbagi dua kegunaan, yakni untuk imunitas dan pertumbuhan. Sementara orang dewasa membutuhkan gizi hanya untuk imunitas.

"Selain imunitas, faktor lingkungan dan udara yang tidak sehat pun jadi penyebab balita mudah terserang penyakit termasuk ISPA," kata dia.

Sementara itu, angka ISPA di Sumsel pada periode Januari-Juli 2019 mencapai 312.038 orang. April menjadi masa paling parah dengan jumlah 54.409 penderita, disusul Maret dengan 54.237 penderita, 50.837 penderita pada Februari, 44.142 orang pada Januari, 40.459 penderita pada Mei, dan 37.536 penderita pada Juli.

Kota Palembang menjadi daerah paling tinggi jumlah penderita ISPA dengan 92.416 orang.

[Gambas:Video CNN] (idz/arh)