Menengok Rumah Masa Kecil Habibie di Parepare

CNN Indonesia | Kamis, 12/09/2019 08:46 WIB
Menengok Rumah Masa Kecil Habibie di Parepare Salah satu ranjang besi peninggalan di rumah bekas keluarga BJ Habibie yang telah dijual ke salah satu keluarga pejuang di Parepare, Sulawesi Selatan. (CNNIndonesia/Sari)
Parepare, CNN Indonesia -- Presiden ketiga RI Bacharuddin Jusuf Habibie (BJ Habibie) telah menghembuskan nafas terakhirnya, Rabu (11/9) petang. Habibie yang lahir di Parepare, Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1936 itu wafat pada usia 83 karena sakit yang dideritanya.

Untuk mengenang jasa-jasa sang presiden, Pemerintah Kota Parepare pun berencana menjadikan rumah kelahiran Habibie menjadi sebuah museum.

Habibie lahir di kota tersebut saat orang tuanya berdinas di kota tersebut. Jalan yang menjadi lokasi rumah dinas itu saat ini menggunakan nama ayah dari Habibie yakni Alwi Abdul Jalil Habibie.


Ayah Habibie merupakan seorang pakar pertanian. Namun saat Habibie berusia 14 tahun ayahnya wafat.

Selain rumah dinas di Jalan Alwi Abdul Jalil Habibie tersebut, keluarga besar Presiden ketiga RI itu pun memiliki kediaman pribadi di Jalan Bau Massepe permpatan Jalan Usman Isa Nomor 5, Parepare.

Namun, kediaman pribadi itu kini sudah berpindah tangan dan tercatat atas nama keluarga almarhum Usman Balo. Usman Balo dikenal sebagai salah seorang pejuang kemerdekaan di Sulsel. Rumah itu telah dibeli dari keluarga BJ Habibie.

Imran, (63), warga Kota Parepare, adik ipar almarhum Usman Balo menjelaskan saat orang tua BJ Habibie pindah tugas di Surabaya, rumah itu kemudian dijual berikut perabotannya ke keluarga pejuang itu.

"Di Surabaya transaksinya oleh sepupu saya dengan ibunya Pak BJ Habibie. Harganya kala itu istilahnya "4 ribu dui' labba" atau 4 ribu uang lebar. Rumah itu pernah dikunjungi orang Jerman. Tapi saya tidak tahu, apakah orang Jerman itu adalah wisatawan atau teman-teman BJ Habibie. Mereka datang saja lihat-lihat," kata Imran, Rabu (11/9) malam.

Hingga saat ini, imbuhnya, rumah batu yang kira-kira luasnya 10 x 15 meter itu masih asli bagian dalamnya.

Ada 4 kamar yang satu diantaranya kamar pembantu, dapur dan garasi semua masih asli yang dibangun dengan batu tanpa besi, berikut perabotannya. Hanya bagian luar yang dipugar yakni lantainya yang tegel biasa sudah diganti, Pintunya dulu pintu geser, kini pintu kaca didorong.

"Kursi-kursinya sudah rusak, perabotan yang tersisa itu hanya dua yakni ranjang besi model dulu dan lemari kayu.Yang tinggal di rumah itu ada dua orang anak almarhum Usman Balo," kata Imran.

Menengok Rumah Keluarga Habibie di PareparePersiapan pemakaman Presiden ketiga RI BJ Habibie di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, 12 September 2019. (CNN Indonesia/Aria Ananda)

Semasa hidupnya, BJ Habibie menghabiskan hidupnya di Sulawesi Selatan, Bandung, Jerman, dan Jakarta. Ayah Habibie berasal dari Gorontalo, sementara ibunya dari Yogyakarta. Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara.

Marga 'Habibie' ialah salah satu marga asli dalam struktur sosial Pohala'a (Kerajaan dan Kekeluargaan) di Gorontalo.

Dari Parepare kehidupan Habibie berlanjut ke Bandung. Di Kota Kembang ia menuntut ilmu di SMP dan SMA Kristen Dago. Dalam masa ini ia berkawan dengan Hasri Ainun, yang setelah lulus kuliah dipersuntingnya menjadi istri.

Lulus SMA, Habibie melanjutkan kuliah di Fakultas Teknik Institut Teknologi Bandung. Seakan haus ilmu, Habibie yang telah lulus melanjutkan studi teknik penerbangan spesialisasi konstruksi pesawat terbang RWTH Aachen, Jerman Barat.

Selepas kuliah dan sejak mendapat pekerjaan di perusahaan kereta api sekitar tahun 1962, Habibie, Ainun, dan anaknya hidup di Jerman.

Pada 1974 ia dipanggil Presiden RI Soeharto untuk pulang ke Indonesia "mengurusi negara". Semenjak saat itu Habibie aktif dalam pemerintahan hingga menjadi presiden menggantikan Soeharto pada 1998, dan lengser setelah laporan pertanggungjawabannya tak diterima MPR pada 1999.

Menengok Rumah Keluarga Habibie di ParepareBJ Habibie mengucapkan sumpah di bawah Alquran saat dilantik menjadi Presiden RI menggantikan Soeharto yang memutuskan mundur, Jakarta, 21 Mei 1998. (REUTERS)

Museum Permintaan Habibie

Sementara itu kemarin, Walikota Parepare Taufan mengatakan rencana pembuatan museum itu sebetulnya merupakan permintaan dari Habibie sendiri. Itu, sambung Taufan, disampaikan Habibie sendiri pada dirinya.

"Ini adalah tempat yang akan kita jadikan museum satu-satunya di dunia karena dia pernah menantang saya. Dia katakan, 'saya tantang kamu Taufan untuk buat museum tapi di rumah kelahiran saya'," kenang Taufan seperti dikutip dari Antara, Rabu (11/9).

Taufan mengenang pengalamannya kala Habibie menyempatkan berkunjung ke rumah itu. Saat itu Habibie berpesan agar tempat itu dijadikan museum.

"Karena kalau beliau ke Pare-pare pasti menyempatkan ke rumah itu," ucap Taufan

Menurut Taufan, rencana pembangunan museum itu sempat terkendala masalah anggaran. Namun ia memastikan Museum Habibie telah mendapat respons positif dari Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah dan akan terus dilanjutkan sampai selesai.

Selain itu, kata dia, rumah kelahiran Habibie itu sebelumnya juga sudah menjadi aset Bank BNI. Ia bersama Habibie pun telah menyempatkan bertemu pihak BNI untuk mengurus rencana tersebut.

"Jadi saya bersama bapak Habibie dan manajemen BNI sempat bertemu. Pihak BNI mengiyakan. Alhamdulillah, karena ini sudah menjadi aset daerah, insyaallah 2020 kita mulai membangun museum ini," tuturnya.

Selain museum, pihaknya juga berencana membuat Taman Habibie, sebagai simbol Habibie sebagai bapak edukasi dan inspirasi bangsa.

Habibie rencananya akan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, pada siang ini. Ia direncanakan dimakamkan di samping makam istrinya, Hasri Ainun. Ainun telah wafat lebih dulu pada 22 Mei 2010.


[Gambas:Video CNN] (svh/kid)