Gubernur Ajak Warga Doa dan Puasa untuk Sejukkan Papua

CNN Indonesia | Sabtu, 21/09/2019 01:57 WIB
Gubernur Ajak Warga Doa dan Puasa untuk Sejukkan Papua Gubernur Papua Lukas Enembe mewajibkan warganya berdoa dan puasa bersama hingga Februari 2020 demi memulihkan kondisi sosial (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur Provinsi Papua Lukas Enembe mengajak warganya untuk berdoa dan berpuasa untuk memohon pemulihan kondisi sosial setelah terjadi rentetan peristiwa sejak Agustus lalu. Dia mewajibkan doa dan puasa dilakukan hingga Februari 2020.

Nantinya, doa dan puasa akan ditutup dengan ibadah bersama di Stadion Papua Bangkit pada 5 Februari 2020 yang bertepatan dengan 165 tahun Injil masuk ke Papua.

"Doa dan puasa tersebut wajib dilaksanakan hingga tahun depan, selanjutnya diakhiri dalam suasana ibadah bersama di Stadion Papua Bangkit pada 5 Februari 2020," ucap Lukas seperti dilansir dari Antara, Jumat (20/9).


Lukas berharap doa dan puasa bersama dapat membantu penyelesaian masalah di Papua. Terutama berkenaan dengan peristiwa yang terjadi beberapa hari terakhir.

Merujuk dari laman resmi Pemprov Papua, yakni papua.go.id Lukas mengaku sudah tidak mampu menangani masalah yang berkaitan dengan politik di wilayahnya. Oleh karena itu, doa dan puasa bersama oleh masyarakat perlu dilakukan.
Dia lalu meminta para pemuka agama membuat jadwal doa dan puasa bersama di tempat ibadahnya masing-masing.

"Sebab kita (pemerintah daerah) sudah tidak mampu lagi tangani masalah (politik) saat ini. Kecuali doa dan puasa bisa meredakan persoalan di tanah Papua," tutur Lukas di Gedung Negara Dok V Atas Jayapura, Jumat pekan lalu (13/9).
Kerusuhan sempat melanda Kota Jayapura, Papua sebagai buntut kasus rasialisme di Surabaya, Jawa TimurKerusuhan sempat melanda Kota Jayapura, Papua yang merupakan buntut kasus rasialisme di Surabaya, Jawa Timur (CNN Indonesia)

Mahasiswa Pulang, Gubernur Koordinasi dengan Kampus


Lukas lalu angkat suara mengenai kabar kepulangan mahasiswa dari berbagai daerah kembali ke tanah Papua. Dia mengatakan bakal menjalin komunikasi dengan mereka.

Dia ingin mengetahui lebih dalam apa yang ada di benak mahasiswa hingga memutuskan untuk pulang ke kampung halaman.

"Kami juga akan berkoordinasi dengan universitas dan kampus masing-masing kota studi melalui pemerintah kabupaten mengenai kepulangan mahasiswa tersebut," kata Lukas.

Diketahui, sebanyak 600 dari total sekitar 1.950 mahasiswa asal Yahukimo, Papua yang kuliah di berbagai daerah memutuskan untutk kembali ke daerah asalnya. Hal itu diutarakan oleh Bupati Yahukimo Abock Busup.
Dia mengatakan para mahasiswa mendapat tekanan hingga intimidasi setelah terjadi masalah rasialisme di Surabaya, Jawa Timur. Karenanya, mereka pulang dan akan berembuk bersama untuk menentukan langkah selanjutnya.

"Sebanyak 1.950 mahasiswa, yang ada di sini sudah pulang itu 600 orang, lalu 120 mahasiswa lainnya ada di ibu kota (Jakarta)," kata Abock di Jayapura, Papua, Selasa (17/9) mengutip Antara.

Sebelumnya, telah ada sekitar 835 mahasiswa Papua yang pulang kampung. Hal itu diutarakan Menkopolhukam Wiranto

Mahasiswa Papua tersebut mulanya tinggal dan berstudi di berbagai daerah. Namun, memutuskan pulang setelah terjadi kasus rasialisme di Surabaya yang berujung rentetan aksi unjuk rasa di berbagai daerah.

"(Eksodus) ini akibat dari adanya provokasi, akibat adanya informasi yang tidak benar," ujar Wiranto di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Senin (9/9).
[Gambas:Video CNN] (Antara/bmw)