Ma'ruf Amin Akui Fatwa Haram MUI Tak Cukup Cegah Karhutla

CNN Indonesia | Sabtu, 21/09/2019 22:41 WIB
Ma'ruf Amin Akui Fatwa Haram MUI Tak Cukup Cegah Karhutla Ma'ruf Amin menilai fatwa haram tak mampu cegah karhutla. (Foto: CNN Indonesia/Aini Putri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin menyebut bahwa pihaknya sudah memiliki fatwa yang mengharamkan tindakan pembakaran hutan dan lahan. Namun, akunya, itu belum cukup mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"MUI sudah ikut berpartisipasi membuat fatwa haram. Nah, memang ada yang dengan fatwa itu menjadi tidak berani, tapi ada yang memang tidak cukup melalui fatwa," ucap Ma'ruf di acara Gerakan Nasional Kedaulatan Pangan yang digagas PINBAS MUI, Jakarta, Sabtu (21/9).

Wakil Presiden Terpilih periode 2019-2024 itu pun menyebut pemerintah tetap perlu memberlakukan aturan hukum lain yang bisa membuat pelaku karhutla jera.


"Perlu ada tindakan, perlu ada penindakan hukum, law enforcement, kalau sifat fatwa itu bimbingan, pedoman, ajakan, arahan, tapi kalau tidak bisa diarahkan, ya di law enforcement, penegakan hukum," katanya.

Sebelumnya, MUI telah mengeluarkan fatwa haram mengenai karhutla sejak 2016 lalu. Fatwa tersebut menyebut, pembakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kerusakan, pencemaran lingkungan, kerugian bagi orang lain, gangguan kesehatan, hingga dampak buruk lainnya adalah haram hukumnya.

Lalu, hukum haram juga berlaku bagi pihak yang memfasilitasi, membiarkan, mengambil keuntungan dari pembakaran hutan dan lahan. Kemudian, fatwa juga menyatakan bahwa kejahatan dan pelaku pembakaran hutan dan lahan perlu dikenakan sanksi sesuai dengan tingkat kerusakan yang ditimbulkan. Sementara pemanfaatan hutan dan lahan yang tidak sesuai syarat-syarat juga haram hukumnya.

Syarat-syarat yang dimaksud antara lain pemanfaatan hutan dan lahan harus memperoleh hak yang sah, izin dari pihak berwenang, ditujukan untuk kemaslahatan, dan tidak menimbulkan kerusakan. 

[Gambas:Video CNN]

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi ada sekitar 1.182 titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Sumatera pada Sabtu (21/9) pagi. Deteksi ini dilakukan menggunakan satelit Terra dan Aqua yang dilakukan pada pukul 06.00 WIB.

BMKG juga mendapati titik panas yang tersebar di Provinsi Jambi sebanyak 449 titik, Sumatera Selatan 391 titik, Riau 198 titik, Bangka Belitung 40 titik, Lampung 33 titik, dan Sumatera Barat 8 titik. Lalu, Sumatera Utara dan Bengkulu, masing-masing 2 titik.

Khusus di Riau, dipastikan terdapat 129 titik api karhutla. Lokasi titik api ini paling banyak di Indragiri Hilir yaitu sebanyak 47 titik, Rokan hilir 38 titik, dan Pelalawan 18 titik.

(uli/ayk)