Kabut Asap Kian Pekat, Penerbangan di Sumut Terganggu

CNN Indonesia | Senin, 23/09/2019 21:54 WIB
Kabut Asap Kian Pekat, Penerbangan di Sumut Terganggu Operator Tower AirNav Bandara Kualanamu. (CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah)
Medan, CNN Indonesia -- Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Sumatra membuat jadwal penerbangan di sejumlah bandara di Sumatera Utara terganggu, Senin (23/9).

Jarak pandang di bandara tujuan sangat rendah sehingga pesawat tidak dapat mendarat di bandara tujuan. Informasi yang diperoleh hingga pukul 12.58 WIB, tercatat sudah lima jadwal penerbangan di Bandara Kualanamu yang dibatalkan.

"Untuk saat ini ada lima penerbangan yang dibatalkan sejak pagi hingga Rabu tengah hari ini," kata Manager of Branch Communication and Legal Bandara Kualanamu, Wisnu Budi Setianto.


Lima penerbangan yang dibatalkan itu adalah Wings Air IW 1296/1297rute Kualanamu-Silangit-Kualanamu; IW 1410/1411 rute Kualanamu-Rembele, Takengon, Aceh-Kualanamu; IW 1216/1215 rute Kualanamu-Aek Godang-Kualanamu; IW 1156/1155 rute Kualanamu-Ferdinand Lumban Tobing, dan IW 1239/1238 rute Kualanamu-Pinang Kampai, Dumai-Kualanamu.

Dia mengatakan, pembatalan penerbangan terpaksa dilakukan karena asap menghalangi jarak pandang di bandara tujuan.

"Jarak pandang makin pendek, sehingga dibatalkan," jelasnya.

Dia memaparkan penerbangan di Bandara Kualanamu terganggu akibat asap karhutla sejak 7 hari lalu atau 16 September 2019. Khusus di Bandara Kualanamu, jarak pandang berdasarkan laporan BMKG, masih berkisar antara 1.200 hingga 1.500 meter.

"Jarak pandang ini tetap memungkinkan bagi Bandara Kualanamu yang memiliki instrumen landing. Tapi berbeda dengan bandara kecil lainnya," terangnya.

Sementara itu, Kepala Otoritas Bandara Wilayah II Bintang Hidayat menambahkan, bagi bandara yang memiliki instrumen landing, visibility atau jarak pandang minimal 800 meter, sedangkan di bandara-bandara kecil yang tidak memiliki instrument landing, visibility harus 5.000 meter.

"Sehingga, bandara-bandara kecil sulit untuk dilakukan pendaratan karena kabut asap," bebernya.

Kabut asap ini memang berpengaruh besar bandara-bandara kecil di Sumut. Bandara FL Tobing, Pinangsori, Tapanuli Tengah, misalnya, kemungkinan akan ditutup sementara jika kondisi asap memburuk.

"Jika situasi jarak pandang dan lainnya memburuk, segera akan dilakukan koordinasi dan menerbitkan NOTAM (Notice to Airmen) penutupan Bandara Dr FL Tobing hingga kondisi cuaca cerah kembali," jelasnya.


Kualitas Udara Medan Tak Sehat Akibat Asap Karhutla

Sementara itu, dalam dua pekan terakhir Kota Medan makin diselimuti kabut asap akibat karhutla. Bahkan dua hari terakhir kabut asap di Kota Medan semakin menjadi-jadi menyebabkan kualitas udara di Kota Medan sudah tidak sehat.

Kepala BBMKG Wilayah 1 Medan Edison Kurniawan mengatakan berdasarkan monitoring particulate matter (PM 10) harian di Stasiun Klimatologi Deliserdang tercatat kualitas udara di Kota Medan sudah tidak sehat.

"Berdasarkan hasil pengukuran kualitas udara di Stasiun Klimatologi Deliserdang hari ini, dapat disimpulkan bahwa umumnya konsentrasi partikulat PM 10 di wilayah Medan dalam kondisi tidak sehat berkisar antara 153.1 - 163 μgram/m3," kata Edison, Senin (23/9).

Dia menjelaskan particulate (PM10) adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 10 mikrometer. Nilai ambang batas merupakan batas konsentrasi polusi udara yang diperbolehkan berada dalam udara ambien yaitu NAB PM 10 = 150 μgram/m3.

"Untuk itu kami mengimbau bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan agar memakai masker pelindung," ujar Edison.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggandeng Dewan Masjid Indonesia (DMI) untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa daerah di Sumatra dan Kalimantan.

Kepala BNPB Letjen Doni Monardo mengatakan pihaknya meminta bantuan doa agar hujan alami segera diturunkan di daerah-daerah terdampak karhutla.
(fnr/kid)