Kronologi Aksi Mahasiswa di DPR Berujung Rusuh Versi Polisi

CNN Indonesia | Rabu, 25/09/2019 12:36 WIB
Kronologi Aksi Mahasiswa di DPR Berujung Rusuh Versi Polisi Aksi demonstrasi mahasiswa di depan gedung DPR/MPR. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aksi unjuk rasa yang diikuti oleh elemen mahasiswa dari berbagai universitas yang menuntut penolakan terhadap revisi Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) dan revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di depan Gedung DPR/MPR pada Selasa (24/9) kemarin berujung rusuh.

Bentrokan pecah antara massa pedemo dengan petugas kepolisian sejak sore hingga Rabu (25/9) dini hari. 


Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono mengatakan mahasiswa itu mulai berkumpul untuk demo sejak pukul 08.00 WIB. Kemudian, mulai pukul 14.00 WIB, mahasiswa mulai mencoba masuk ke jalan tol dalam kota arah Cawang-Slipi yang terletak persis di depan Gedung DPR/MPR.


"Tetapi situasi masih aman dan kondusif," kata Gatot di Mapolda Metro Jaya, Rabu (25/9).

Pada pukul 16.00 WIB, mahasiswa mulai meminta untuk bisa berkomunikasi dengan para pimpinan DPR, termasuk ketua DPR RI Bambang Soesatyo.


Permintaan itu, kemudian diteruskan oleh pihak kepolisian dan berkoordinasi dengan pihak Sekretaris Jenderal DPR. Setelahnya, pihak Sekjen menyampaikan bahwa para pimpinan DPR siap untuk menerima para mahasiswa.

"Tetapi dari adik-adik mahasiswa menghendaki ketua DPR dan pimpinannya untuk datang di tengah-tengah adik-adik mahasiswa yang sedang melaksanakan unjuk rasa," tutur Gatot.

Dengan mempertimbangkan sejumlah faktor, permintaan mahasiswa itu tidak bisa dipenuhi. Gatot mengungkapkan mahasiswa kemudian menyampaikan bahwa jika pimpinan DPR tidak bisa menemui, mereka tidak akan bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi selanjutnya.

Pukul 16.05 WIB, mahasiswa mulai meneriakkan yel-yel dan berusaha masuk ke dalam area Gedung DPR/MPR. Saat itu, personel kepolisian yang berada di depan pagar mulai didorong dan dilempari dengan menggunakan botol hingga batu.

"Sedangkan yang di samping kanan itu sudah mulai merusak pagar DPR, karena apa, karena tujuannya untuk masuk ke dalam DPR dan ingin menguasai DPR," ujar Gatot.


Atas aksi itu, polisi kemudian mulai mengambil tindakan tegas. Menurut Gatot, langkah itu diambil lantaran aksi yang dilakukan sudah dapat dikategorikan sebagai tindakan anarkis.

Gatot mengklaim langkah tegas yang diambil kepolisian pun dilakukan sesuai dengan aturan. Pertama, pihak kepolisian menembakkan meriam air (water cannon) ke arah mahasiswa dengan tujuan agar mereka mundur.

"Tetapi mereka tidak mau mundur, tetapi maju bahkan semakin merusak pagar DPR," ucapnya.

Karena mahasiswa justru melakukan aksi perusakan pagar DPR, pihak kepolisian kemudian menembakkan gas air mata ke arah mahasiswa.

"Sehingga atas nama undang-undang tentunya polisi melakukan tindakan tegas menembakkan gas air mata kepada pengunjuk rasa supaya adik-adik mahasiswa ini mundur," tutur Gatot.


Gatot menuturkan bentrokan antara massa dan aparat kepolisian berlangsung hingga malam hari. Bentrokan tersebut baru berakhir sekitar pukul 01.15 WIB.

Buntut kerusuhan itu, polisi mengamankan 94 orang. Saat ini, polisi masih melakukan pemeriksaan.

"Kita akan pilah-pilah dari mana mereka ini, apakah mereka ini dari adik-adik mahasiswa, kemudian dari masyarakat atau dari pihak-pihak lain, tentunya masih kita dalami," ucap Gatot.

Polisi pukul mundur mahasiswa menggunakan water cannon di depan Gedung DPR. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)

Akibat aksi kerusuhan itu, polisi juga mencatat sejumlah fasilitas dan kendaraan mengalami kerusakan. Antara lain, pagar DPR, mobil pengurai massa milik Polri, mobil meriam air milik Polri, serta bus milik TNI.

Selain itu, tiga pos polisi juga dirusak hingga dibakar oleh massa. Yakni, Pospol Palmerah, Pospol Slipi, serta Pospol yang terletak di dekat Hotel Mulia. Tak hanya itu, sejumlah orang juga mengalami luka, tercatat 254 orang dirawat jalan dan 11 orang dirawat inap, serta 39 orang polisi juga mengalami luka.


Lebih lanjut, Gatot menyampaikan bahwa dalam proses pengamanan aksi kemarin, pihaknya telah memberikan toleransi dan ruang kepada mahasiswa untuk menyampaikan aspirasinya. Termasuk, soal permintaan untuk bertemu dengan pimpinan DPR pun telah diupayakan untuk difasilitasi.

"Karena niat baik kita untuk memberikan toleransi ini disalahgunakan, maka nanti kami akan melakukan penyekatan-penyekatan, tentunya pengamanan ini terhadap adik-adik mahasiswa apabila melakukan unjuk rasa kembali," tuturnya.

Ia mengimbau kepada mahasiswa agar bisa mengikuti segala aturan yang berlaku jika nanti kembali menggelar aksi unjuk rasa, sehingga kerusuhan atau bentrokan tidak terulang lagi.

"Saya yakin betul bahwa adik-adik mahasiswa adalah mahasiswa-mahasiswa yang cerdas, lakukan dengan cara-cara yang cerdas, dengan cara-cara yang elegan, dengan cara-cara yang tentunya sesuai ketentuan peraturan dan perundang-undangan yang ada," kata Gatot.

[Gambas:Video CNN] (dis/DAL)