Titiek mengaku heran mengapa pemerintah saat ini tak berupaya mendinginkan suasana terkait aksi mahasiswa yang digelar sejak Senin lalu (23/9). Menurutnya, pemerintah malah bersikap represif.
Diketahui, pelbagai elemen mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa terkait dengan pelbagai persoalan. Mulai dari kekerasan di Papua, kebakaran hutan, hingga RKUHP dan pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Titiek menegaskan bahwa dengan aksi dari pelbagai elemen itu, Presiden diminta untuk berkaca pada peristiwa 1998.
Mahasiswa berhasli menduduki Kompleks Parlemen pada 1998 lalu ketika menuntut Soeharto mundur dari kursi presiden dan reformasi (REUTERS) |
Dia adalah Faisal Amir. Operasi di kepala dan bahu kanan harus dijalaninya.
Usai aksi mahasiswa, ratusan pelajar pun menggelar aksi unjuk rasa di depan DPR pada Rabu (25/9). Polisi pun berulang kali menembakkan gas air mata untuk membubarkan aksi.
Titiek mengatakan demo kali ini tidak boleh dianggap main-main karena dilakukan oleh pelbagai elemen. Dia juga meminta Presiden untuk memerintahkan kepolisian untuk tak bersikap represif ke mahasiswa.
"Jangan merepresi dan menekan mahasiswa," tutur mantan politisi Golkar itu.
Polda Metro Jaya sempat mengamankan 94 mahasiswa pada Selasa lalu (24/9). Mereka ditahan untuk menjalani pemeriksaan.
Terkini, Polda Metro Jaya telah memulangkan 56 mahasiswa. Masih ada 38 lagi yang masih ditahan pihak kepolisian.
Penahanan mahasiswa juga dilakukan Polda Jawa Barat. Sebanyak 64 mahasiswa ditangkap. Mereka semua lalu dipulangkan kembali kecuali 4 orang mahasiswa yang diduga positif mengonsumsi narkoba. Keempat mahasiswa itu telah ditetapkan sebagai tersangka.
[Gambas:Video CNN] (asa/bmw)
Mahasiswa berhasli menduduki Kompleks Parlemen pada 1998 lalu ketika menuntut Soeharto mundur dari kursi presiden dan reformasi (REUTERS)