HMI Sebut Polisi sebagai Penjahat Demokrasi

CNN Indonesia | Jumat, 27/09/2019 19:46 WIB
HMI Sebut Polisi sebagai Penjahat Demokrasi Massa aksi dari Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) berusaha aksi di depan Gedung DPR/MPR pada Jumat (27/9). (CNN Indonesiaa/ Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Massa mahasiswa yang hendak unjuk rasa di depan Gedung DPR membubarkan diri sebelum pukul 18.00 WIB. Langkah mereka terhenti di persimpangan Jalan Gatot Subroto menuju Slipi dan Palmerah. Pihak kepolisian menutup jalur itu menggunakan pembatas beton dan kawat berduri.

Massa yang berasal dari Himpunan Mahasiswa Islam ini bahkan mencatat polisi sebagai 'penjahat demokrasi' karena tidak mengizinkan pihaknya berdemonstrasi tepat di depan gedung DPR.
"Teman-teman, mari kita catat polisi sebagai penjahat demokrasi," kata seorang mahasiswa ketika meneriakkan orasinya dari atas mobil komando kepada pihak keamanan yang berjaga tepat di depan kerumunan massa, Jumat (27/9).

Meskipun mengurungkan keinginan untuk melakukan unjuk rasa, namun pihak HMI mengklaim akan konsolidasi lanjutan untuk menyiapkan massa yang lebih banyak untuk turun aksi pada Senin (30/9) mendatang.


"Kami akan melakukan konsolidasi sebesar-besarnya dan kembali lagi hari Senin nanti," teriak orator.

"Kami akan tembus DPR!" tambahnya.

Di lain sisi, Presiden Mahasiswa Universitas Ibnu Chaldun Jakarta Jalil Lolilatu juga menyayangkan sikap aparat yang seolah menjadi 'tameng' perlindungan bagi para anggota dewan parlemen.

Ia bersama sejumlah mahasiswa dari UIC juga berencana melakukan konsolidasi dan membawa massa dengan jumlah yang lebih besar pada aksi mendatang.

"Kami dihalangi oleh pihak kepolisian. Yang kami sayangkan adalah bapak kepolisian kemudian menjadi tameng untuk melindungi kepentingan penguasa negeri ini," kata Jalil.

Selain menuntut mengenai RUU KPK dan juta RKUHP, massa aksi juga sempat meminta agar pemerintah menyelesaikan kebakaran hutan yang hingga kini masih bermasalah.

Sebelum, mereka telah melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutan untuk menyampaikan tuntutan itu. Bahkan, dengan tegas mereka meminta agar pemerintah segera mencopot Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutan, Siti Nurbaya di akhir jabatannya ini.

Pantauan CNNIndonesia.com, ratusan mahasiswa itu membakar dua ban mobil persis di depan pagar gedung KLHK. Hal itu dilakukan sebagai aksi simbolik menggambarkan suasana karhutla yang terjadi di sejumlah daerah.


[Gambas:Video CNN] (mjo/pmg)