Massa yang berasal dari Himpunan Mahasiswa Islam ini bahkan mencatat polisi sebagai 'penjahat demokrasi' karena tidak mengizinkan pihaknya berdemonstrasi tepat di depan gedung DPR.
Lihat juga:Paradoks Demokrasi di Rezim Jokowi |
Meskipun mengurungkan keinginan untuk melakukan unjuk rasa, namun pihak HMI mengklaim akan konsolidasi lanjutan untuk menyiapkan massa yang lebih banyak untuk turun aksi pada Senin (30/9) mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami akan tembus DPR!" tambahnya.
Di lain sisi, Presiden Mahasiswa Universitas Ibnu Chaldun Jakarta Jalil Lolilatu juga menyayangkan sikap aparat yang seolah menjadi 'tameng' perlindungan bagi para anggota dewan parlemen.
"Kami dihalangi oleh pihak kepolisian. Yang kami sayangkan adalah bapak kepolisian kemudian menjadi tameng untuk melindungi kepentingan penguasa negeri ini," kata Jalil.
Selain menuntut mengenai RUU KPK dan juta RKUHP, massa aksi juga sempat meminta agar pemerintah menyelesaikan kebakaran hutan yang hingga kini masih bermasalah.
Sebelum, mereka telah melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutan untuk menyampaikan tuntutan itu. Bahkan, dengan tegas mereka meminta agar pemerintah segera mencopot Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutan, Siti Nurbaya di akhir jabatannya ini.
Pantauan CNNIndonesia.com, ratusan mahasiswa itu membakar dua ban mobil persis di depan pagar gedung KLHK. Hal itu dilakukan sebagai aksi simbolik menggambarkan suasana karhutla yang terjadi di sejumlah daerah.
[Gambas:Video CNN] (mjo/pmg)